Selasa, 14 Desember 2010

Ganggang Air Bisa Jadi Sumber Bahan Bakar


Saat ini bioetanol banyak dipakai sebagai pengganti bahan bakar minyak. Mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh November (ITS), Surabaya, berhasil meneliti ganggang air alias alga bisa dipakai sebagai bahan pembuatan bioetanol. Untuk satu liter bioetanol, hanya butuh 0,67 kilogram Algae spirogyra.

Para mahasiswa ITS itu adalah Sulfahri dan Eko Sunarto dari Jurusan Biologi FMIPA, serta Siti Mushlihah dan Renia Setyo Utami dari Teknik Lingkungan FTSP. Mereka mulai melakukan penelitian sejak April lalu yang didanai hibah Dikti dan menemukan kelebihan
Algae spirogyra jika diolah menjadi bioetanol.

Lewat penelitian, mereka membuktikan kalau alga lebih efisien dijadikan bioetanol dibandingkan dengan bahan-bahan lainnya. Untuk menghasilkan satu liter bioetanol dibutuhkan 8 kg ubi jalar atau 6,5 kg singkong atau 5 kg jagung. Namun, untuk hasil yang sama, dengan
Algae spirogyra hanya diperlukan 0,67 kg.

Sulfahri menyebutkan tertarik meneliti alga karena selama ini bioetanol banyak dihasilkan dari tanaman pangan seperti jagung, singkong, dan ubi jalar. Padahal, bahan-bahan ini masih dibutuhkan sebagai penopang bahan pangan. Sementara alga tersebar di mana-mana dan kandungan karbohidratnya lebih tinggi ketimbang jagung atau umbi-umbian.


Algae spirogyra
atau ganggang air yang dipakai sebagai penelitian adalah yang hijau berbentuk benang. Alga yang tersusun atas sel-sel yang membentuk untaian panjang seperti benang ini berkembang biak secara vegetatif dengan cara fragmentasi dan perkembangbiakan secara generatif dengan konjugasi

Algae spirogyra
memiliki kandungan karbohidrat hingga 64 persen. Karbohidrat dibutuhkan dalam proses fermentasi yang menghasilkan bioetanol. Alga cepat berkembang biak dan tidak membutuhkan lahan luas. Selain itu, proses fermentasi juga lebih cepat.

Pengolahan diawali dengan pengeringan manual di bawah terik matahari (lebih kurang tiga hari) atau dikeringkan dalam oven. Setelah kering dicampur air dengan perbandingan 1:15. Lalu dihancurkan  dengan blender atau mesin.


Selanjutnya dipanaskan atau proses hidrolisis sekitar dua jam dan didinginkan dalam suhu hingga 4 derajat celsius. Untuk membantu proses fermentasi, ditambahkan enzim aminase. "Proses fermentasi 10 hari memiliki hasil lebih baik," kata Eko.


Untuk mendapatkan bioetanol, dilakukan destilasi. "Hasil dan kualitas tak kalah jika dibandingkan dengan bioetanol bahan lain," tegas Sulfahri.


Kebutuhan BBM nasional bisa dipenuhi lewat produksi bioetanol. Hingga Maret 2008, kebutuhan BBM Indonesia mencapai 1,3 juta barrel per hari, padahal produksi BBM nasional hanya sekitar 900.000 barrel per hari. Sementara total produksi bioetanol Indonesia hingga 30 Juni 2008 hanya sekitar 160.000 kiloliter.


Blue Jeans untuk Panel Surya


Tahukah anda bahwa Celana jeans yang sering kita pakai adalah bukan hanya sekedar untuk fashion lagi??

Para peneliti di Cornell University telah menemukan cara untuk menggunakan molekul yang biasanya ditemukan di jean pewarna biru untuk membuat kerangka kerja, organik fleksibel dimana peneliti berharap untuk menerjemahkannya ke sel-sel surya lebih baik.


sel surya saat ini sebagian besar terbuat dari silikon, tetapi mereka bisa menjadi berat, tidak fleksibel dan tidak efisien.


Para peneliti mengorganisasikan molekul pewarna ke dalam "kerangka kovalen organik," atau COF, bahan terikat yang sangat ringan, berpori dan kuat.


Pendekatan ini membutuhkan waktu untuk molekul yang tepat untuk "tumbuh."


"" Seluruh sistem selalu membentuk struktur yang salah di samping yang benar, tapi struktur yang benar adalah yang paling stabil, sehingga akhirnya, struktur lebih sempurna berakhir mendominasi, "kata William Dichtel, asisten profesor kimia dan kimia biologi di Cornell, ScienceBlog.


Penelitian ini diterbitkan dalam jurnal Nature Kimia.


Proses ini menggunakan sebuah katalis asam untuk menyusun ulang molekul-molekul menjadi lembaran dua dimensi. Lembaran itu kemudian ditumpuk di atas satu sama lain untuk membuat jalur kerangka crosshatched untuk melakukan muatan listrik.


Para ilmuwan menggunakan phthalosianin, sebuah molekul digunakan untuk membuat pewarna biru dan hijau dalam plastik dan jeans.


Struktur dengan sendirinya bukanlah sebuah sel surya, tetapi merupakan model yang secara signifikan akan memperluas lingkup materi yang dapat digunakan dalam COFs, Dichtel kata ScienceBlog.


Langkah selanjutnya adalah untuk mulai menguji cara untuk mengisi kerangka crosshatched dengan molekul organik lain yang dapat menyebabkan bahan, fleksibel ringan untuk sel surya.

Sumber : Translate from Discovery Channel


Lemur Baru Memiliki Kaki Besar, Lidah Panjang

Ahli primata percaya bahwa mereka telah menemukan spesies baru lemur di hutan Madagaskar kering, Conservation International dan BBC's Natural History Unit yang diumumkan kemarin.
 

1112434235_YGVMb-XL
(Credit for Images: Conservation International, Russell Mittermeier)

1112433933_6c3FG-XL


1112434174_97zjG-XL


Olahraga lemur huruf "Y" berbentuk garis di bagian atas tubuhnya dan memiliki kaki besar dan lidah yang panjang. The "Y," disebut sebagai garpu oleh para ilmuwan, berarti bahwa itu adalah lemur garpu-ditandai. Sekarang ada empat jenis jenis lemur, Phaner genus, dan yang satu ini diduga menjadi kelima.
 

1112434128_Rrgfh-XL


1112434445_bibnf-XL


Ahli Primata  Russell Mittermeier, yang adalah presiden Conservation International, pertama kali melihat binatang pada tahun 1995 selama ekspedisi ke Daraina, sebuah kawasan lindung di timur laut Madagaskar.
 
1113131248_x5VSc-XL
 
"Saya pergi ke daerah ini untuk pertama kalinya untuk melihat sifaka di Tattersall spektakuler's [Propithecus tattersali], sebuah jenis reptil besar yang sendiri baru saja dijelaskan pada tahun 1988," kata Mittermeier selama pengumuman "Saya terkejut melihat. Garpu- ditandai lemur di sana, karena hewan ini belum direkam dari wilayah tersebut. Aku langsung tahu bahwa ia kemungkinan spesies baru bagi ilmu pengetahuan, tapi tidak punya waktu untuk mengikuti sampai sekarang. "
 

1113131064_fx9G2-XL


1113131452_7V4FX-XL

Dia dan tim baru saja kembali ke situs. Di sana mereka melihat lemur garpu-ditandai khas lagi. Sebenarnya mereka mendengar lemur yang pertama, karena jenis ini tampaknya cukup vokal hanya setelah matahari terbenam. Lemur berlari melalui hutan, mengakibatkan pengejaran oleh cahaya obor, tapi salah satu pelacak berhasil menangkapnya setelah ditembak menggunakan pistol pembius.

1112434638_oUqfE-XL


 
1113131387_VoR9G-XL

Setelah mengijinkan lemur - laki-laki dewasa - untuk beristirahat semalam, para ilmuwan memeriksanya. Saat itulah mereka beretekad membuat "spesies baru", dan menemukan lemur memiliki ukuran yang hampir sama seperti tupai. Mereka memasang microchip pada hewan tersebut dan melepaskannya kembali ke hutan.


  1112434890_Vgx2F-XL

"Ini adalah satu lagi penemuan yang luar biasa dari pulau Madagaskar, prioritas tertinggi di dunia hotspot keanekaragaman hayati dan salah satu tempat luar biasa di planet kita," kata Mittermeier. "Sangat luar biasa bahwa kami terus menemukan spesies baru lemur dan tanaman lainnya dan hewan di negeri ini sangat berdampak, yang telah kehilangan 90 persen atau lebih dari vegetasi aslinya."

 1113131285_ZkEH6-XL

Dia menambahkan bahwa lemur yang mungkin terancam, atau bahkan punah, karena jangkauan sangat terbatas.

1112434083_XmGZf-XL
 
Ciri-cirinya lemur baru antara lain :
  • Garis, hitam berbentuk Y yang dimulai di atas setiap mata dan bergabung bersama sebagai satu baris di bagian atas kepala, menciptakan garpu yang memberikan hewan ini nama umum mereka;.. 
  • Tangan besar dan kaki untuk mencengkeram ke pohon;
  • Suaranya Bernada tinggi  yang membantu tim melacaknya;
  • Perilaku-angguk kepala tidak biasa yang muncul dalam sinar senter di malam hari dan unik untuk spesies ini;
  • Diet yang terdiri dari proporsi tinggi gumexuded oleh pohon dan nektar bunga;
  •  Lidah yang panjang, gigi seri nektar dan telentang, yang membentuk toothcomb khusus sebagai alat Scraping menggigit ke dalam kulit.
 
Lemur baru akan melakukan debut televisi Selasa ini di BBC program "Dekade Discovery", yang diharapkan akan berjalan di Amerika Serikat segera.
 
1112434149_eozHb-XL



Sumber : translate from Discovery Channel


Senin, 13 Desember 2010

Kebakaran Hutan dan Asap

 
Tiga komponen diperlukan bagi api agar dapat menyala dan mengalami proses pembakaran (Countryman, 1975). Pertama, harus tersedia bahan bakar yang dapat terbakar. Selain itu, panas yang cukup, yang digunakan untuk menaikkan temperatur bahan bakar hingga ke titik penyalaan. Dan akhirnya, harus terdapat pula cukup udara untuk menyuplai oksigen yang diperlukan. Oksigen diperlukan untuk menjaga proses pembakaran agar tetap berjalan dan untuk mempertahankan suplai panas yang cukup sehingga memungkinkan terjadinya penyalaan bahan bakar yang sulit terbakar. 

 Ketiga unsur itu, yaitu bahan bakar, panas, dan oksigen, yang memungkinkan timbulnya api disebut dengan segitiga api (fire triangle). Api tersebut hanya dapat terjadi bila ketiga komponen berada pada saat yang bersamaan, jika tidak tak akan ada api sama sekali. Untuk itu, prinsip dasar dalam usaha pencegahan atau pengendalian terjadinya kebakaran hutan dilakukan dengan cara memutuskan salah satu dari ketiga komponen tersebut. Hal yang umum dilakukan adalah dengan cara mengurangi peran komponen bahan bakar dan panas yang dapat dilakukan dengan berbagai macam teknik.

Terjadinya kebakaran
Dasar dari proses terjadinya kebakaran adalah proses pembakaran secara kimia dan fisika.Energi yangtersimpan dalambiomassa dilepaskanpada saatbahan-bahanseperti daun,rumput, ataukayu berkombinasidengan oksigenmembentuk karbondioksida (CO), air, dan sejumlah substansi lain. Dalam kata lain,reaksi inimerupakan reaksikebalikan darifotosintesis, dimanaCO, air, dan energi matahari berkombinasi memproduksi suatu energi kimia simpanan dan oksigen, seperti yang tergambar di bawah ini:

Reaksi pembakaran
(C) + O +sumberpenyulutan (panas)= == == รจ CO +HReaksi fotosintesis
CO +H + O

Intensitas kebakaran
Bagaimana api beraksi dan bagaimana cepatnya laju penjalaran api ditentukan oleh intensitas kebakarannya. Intensitas kebakaran akan secara langsung mempengaruhi tingginya tingkat kerusakan, dan selanjutnya menentukan berapa luas tajuk tanaman yang akan dikonsumsi, mati atau tidak tersentuh oleh api. Laju penjalaran api dari api muka akan menentukan waktu tetap untuk suhu api yang mematikan pohon pada suatu titik yang diberikan, suatu faktor yang relevan untuk kehidupan hewan dan tanaman.

Berlanjutnya flame front akan menentukan apakah hewan dapat menyelinap melalui belakang api ke daerah terbakar yang relatif aman. Selain itu, faktor-faktor yang memungkinkan terjadinya penjalaran juga akan mempengaruhi perilaku api. Sebagai contoh, dengan aerasi yang baik, maka bahan bakar halus akan terbakar lebih intensif dan menjalar dengan lebih cepat.

"Hazard" utama
Hazard (bahaya) utama sebagai hasil dari peristiwa kebakaran maupun pembakaran hutan dan lahan adalah produksi asap disertai dengan kehadiran partikel. Nyala adalah bagian spektakuler dari sebuah api (Debano et al, 1998), simbol umum dari api adalah asap (smoke).

Ratusan senyawa dihasilkan selama reaksi exothermic pembakaran. Senyawa ini dilepaskan melalui oksidasi maupun ke atmosfer. Banyak dari senyawa ini mempunyai temperatur penguapan yang tinggi dan sebagai konsekuensinya selalu siap berkondensasi menjadi jelaga, ter, dan air dalam kolom pendinginan udara di atas api, menghasilkan awan dari asap yang dapat dilihat.

Dampak asap dan penyusunnya terhadap lingkungan dapat bervariasi, mulai dari yang bersifat lokal, yaitu menghalangi pemandangan, hingga kemungkinan pemanasan iklim global. Dampak ini sebagian besar merupakan hasil dari produk kimia utama dan emisi sekunder dari pembakaran.

Produk kimia utama
Produk kimia utama dari pembakaran adalah termasuk produk kimia yang mudah menguap (tetapi tidak teroksidasi) selama proses pembakaran, membentuk rantai secara parsial atau seluruh oksidasi sempurna dari bahan bakar organik dan membentuk pyrosynthesis selama pembakaran. Beberapa dari produk ini adalah CO,dan uapair,adalah pengisinormal dariatmosfer, tetapiyang lainnyasering kalimerupakan polutanudara. Polutanudara yangdimaksud adalahpartikel-partikel,CO, SO, NO, danozon(O).

Karbon dioksida (CO)
Emisi terbesar yang dilepaskan ke atmosfer sebagai hasil dari pembakaran adalah CO.Bersamadengan uapair, CO mencapai 90 persen dari emisi atmosfer dari kebakaran, dan sebagian besar (80-90 persen) adalahemisi C.Karbon dioksida merupakan 99 persen dari emisi C dalam kebakaran yang efisien, yaitu pembakaran yang menghabiskan sebagian besar bahan bakar, jika tidak semua, dari bahan bakar tersedia, tetapi hanya 50 persen dalam intensitas rendah smoldering fire.

Meskipun bukan polutan udara, senyawa bahan kimia ini merupakan gas rumah kaca. Oleh karena itu, mempunyai potensi untuk berdampak pada iklim global melalui pemanasan atmosfer Bumi.

Karbon monoksida (CO)
Karbon monoksida (CO) umumnya dihasilkan melalui pembakaran tidak sempurna dari bahan bakar yang lembab (basah), dan termasuk polutan udara. Jumlah CO yang dilepaskan oleh api adalah fungsi efisiensi pembakaran, meningkat bila efisiensi jatuh (tidak efisien).

Dampak CO terhadap kesehatan manusia sebagian besar bergantung pada lamanya penyebaran, konsentrasi CO dan tingkatan aktivitas fisik. Pemadam kebakaran yang terlibat langsung dalam kegiatan pemadaman atau pembangunan sekat bakar dekat lokasi pembakaran, harus berhati-hati terhadap dampak CO, yaitu pusing, lelah/lesu, dan kehilangan konsentrasi dan orientasi.

Hidrokarbon
Hidrokarbon yang dilepaskan oleh ratusan pembakaran merupakan grup senyawa yang bermacam-macam, dan berbeda dalam reaktivitas atmosfernya bergantung kepada struktur kimianya. Aliphatic hydrocarbon yang mengandung jumlah maksimal dari atom hidrogen, relatif tidak aktif di udara. Senyawa hidrogen yang jenuh ini membuat hingga 15 persen emisi hidrokarbon dalam smoldering fire, dan 30 persen selama fase flaming dari satu kebakaran (Sandberg et al, 1975).

Hidrokarbon sebagai satu grup tidak dipertimbangkan termasuk kriteria polutan udara meskipun jejak hidrokarbon dapat berdampak terhadap kualitas udara (mengurangi pandangan) dan kesehatan manusia. Hidrokarbon yang berhubungan dengan kualitas udara dan kesehatan manusia adalah aldehid dan Polynuclear Aromatic Hydrocarbon (PAH). Aldehid yang terdapat di dalam asap akan menyebabkan iritasi mata, hidung, dan perut. Aldehid juga dapat mempengaruhi penampilan pemadam kebakaran melalui depresi laju pernapasan. Produksi aldehid dalam kebakaran berkisar antara 0,6 persen hingga 2,5 persen dari berat bahan bakar.

Methane adalah gas rumah kaca ketiga terbesar berlimpah yang didistribusikan terhadap pemanasan global. Kira-kira 10 persen methane dilepaskan ke dalam atmosfer setiap tahun datang dari pembakaran biomassa (Andreae, 1991). Semua hidrokarbon lain yang dilepaskan kedalam atmosfer pada laju kira-kira 70 persen dari emisi methane.

Nitrogen dan SO
Produksi NO melalui pembakaran sebagianbesar bergantungkepada kandunganNdari bahanbakar yangdikonsumsi. KeduanyaNO dan NO adalah gas-gas reaktif yang dilepaskan dari pembakaran (Lobart dan Wanatz, 1993). NO secaratermal adalahproduk yangstabil daripembakaran. MeskipunNO kurang stabil dari NO, kelimpahannya meningkat dalam smoldering fire.

Konversi N bahan bakar ke NO dapat bervariasi dari kira-kira 5 persen untuk kayu hingga mendekati 40 persen untuk tanah organik, ada fungsiyang linearantara Nbahan bakardan emisiNO ke dalam atmosfer dalam plume asap (Clements dan McMahon, 1980). Nitrogen oksida diklasifikasikan sebagai polutan udara, dan sebagai tambahan adalah berfungsi sebagai perintis jalan pada pembentukan ozon, polutan udara yang lain.

Senyawa nitrogen lain yang dilepaskan dari kebakaran termasuk ammonia, nitrit berat molekul rendah, hidrogen sianida, acetronitrile, asam nitrik, asam amino, dan senyawa N heterosiklik.

Sulfur oksida membuat S sebagai emisi utamadari kebakaran.Sementara itu,SO adalah polutan udara, tetapi tidak begitu dipertimbangkan, sebagian besar karena dia membuat fraksi yang relatif kecil penyusun asap. Antara 40 persen hingga 60 persen dari S dalam bahan bakar yang dikonsumsi tertinggal dalam abu setelah kebakaran.

Penyebaran asap
Penyebaran asap sangat dipengaruhi oleh keadaan cuaca terutama angin (kecepatan dan arah) dan stabilitas atmosfer (stabil, tidal stabil dan netral). Pada keadaan atmosfer tidak stabil dimana massa udara dari permukaan mengalami pengangkatan dan massa udara akan cenderung naik terus, maka asap akan mudah menyebar dan mengalami pencampuran dengan udara sehingga asap tidak tertahan pada lapisan troposfer bawah dekat permukaan.

Situasi seperti ini tidak membahayakan dari segi pencemaran akibat asap. Pada keadaan atmosfer stabil di mana massa udara akan mengalami pengangkatan sampai ketinggian tertentu dan akan turun kembali, maka hal ini akan sangat berbahaya karena akan menyebabkan asap terangkat, tetapi kemudian dapat turun kembali di daerah lain.

Hal ini menjelaskan mengapa asap di Indonesia dapat mencapai negara tetangga atau yang biasa kita kenal dengan istilah transboudary haze pollution. Pada keadaan atmosfer netral di mana massa udara akan tetap (tidak mengalami pengangkatan dan tidak turun), maka asap yang timbul akan bertahan di daerah asalnya sehingga hal itu juga berbahaya bagi kesehatan dan dapat mengganggu aktivitas.

Pada partikel, partikel-partikel kecil akan terbawa oleh gerakan angin sebagaimana gas dan juga melalui gerak partikel vertikal udara (konveksi) sehingga dapat terbawa hingga ke lapisan atas atmosfer.

Partikel
Bahan partikel adalah salah satu yang terpenting dari produk kimia yang dilepaskan api karena kepentingannya terhadap kesehatan manusia dan dampaknya pada penglihatan. Emisi partikel mendegradasi kualitas udara dengan mengurangi jarak pandang, dan dalam beberapa contoh mereka mengganggu kesehatan manusia melalui gangguan pernapasan.

Distribusi ukuran partikel di dalam asap bervariasi, sebagian besar bergantung kepada bahan kimia dan tipe bahan bakar yang dikonsumsi dan panas yang dilepaskan yang merupakan karakteristik dari masing-masing individu api. Monitoring plume asap dari udara yang berasal dari pembakaran limbah vegetasi sudah diketahui mempunyai ukuran 0,15 milimeter dan lebih dari 43 milimeter (Radke et al, 1990).

Partikel yang lebih besar yang ditemukan dalam plume asap terbentuk karena turbulensi udara bukan melalui pembakaran. Ukuran kecil dari partikel-partikel yang ditemukan dalam plume asap memungkinkan beberapa bahan partikel dapat terbawa ke dalam jaringan paru-paru.

 Sumber : http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0310/20/sorotan/633311.htm


Mengapa pakaian lembab lebih mudah disetrika?


Semua kain (dalam bahasa Kimia biasanya polimer) mempunyai struktur yang sama. Analogi yang baik untuk strukturnya adalah semangkok mie yang telah dimasak dengan tiap untai mie mewakili molekul polimer plastik. Molekul-molekul polimer dalam plastik seperti untai-untai mie saling berbelit. Pada suhu rendah untai-untai molekul itu mengeras dan plastik nampak padat dan rapuh, seperti gelas (barangkali mirip mie yang belum direbus). 

Dengan pemanasan, molekul-molekul yang seperti mie dalam plastik tadi mulai meliuk-liuk, dan tergelincir satu sama lain dan akhirnya pada suhu cukup tinggi bergerak dan mengalir serentak. Jadi tidak seperti bahan bukan plastik yang tegas suhu perubahan padat ke cairnya (misalnya es tepat pada suhu 0oC, secara tegas meleleh dari padat ke cair), plastik berubah perlahan dari padatan ke cairan. 

Kalau pada bahan non-plastik kita kenal titik leleh (suhu saat perubahan padat menjadi cair), pada bahan plastik dikenal suhu transisi gelas (biasa diberi simbol Tg). Tg adalah suhu saat peningkatan kemudahan-alir plastik mulai terjadi. Nilai Tg bergantung jenis plastiknya dan dapat diturunkan nilainya dengan bahan yang disebut plastisiser. 

Contoh nyata dari apa yang kita diskusikan di atas adalah:
  1. ketika kita harus membersihkan sisa permen karet di karpet. Kita telah merasakan sukarnya mengambil sisa permen karet dari karpet tersebut, karena permen tersebut melekat erat dengan karpet. Tapi bila kita dinginkan sisa permen itu dengan es agar berada di bawah Tg-nya, sisa permen tersebut akan pecah seperti padatan biasa.
  2. Kapas adalah polimer alam (berupa selulosa) dengan Tg = 225 oC. Air dapat berfungsi sebagai plastisiser kapas, sehingga dapat menurunkan Tg. Jadi dengan menyemprotkan sedikit air, kerutan pada kain yang terbuat dari kapas lebih mudah dihilangkan. Setelah dingin bentuk kain yang telah hilang kerutnya akan tetap.
  3. Dengan pelan tapi pasti kain katun akan menyerap air dari udara dan kembali ke keadaan lebih plastik dan dengan mudah kusut lagi. Dengan mencampurkan sedikit polimer lain poliester ke poli selulosa, menjadikan daya serap air kain berkurang.
  4. Nilon dan poliester memiliki Tg yang lebih rendah, akibatnya seterika yang digunakan pun tidak perlu terlalu panas.
Nah, ternyata menyetrika akan menjadi logis dengan kimia.

Sumber : http://www.kimianet.lipi.go.id


Cara Mengawetkan Tahu Kedelai Agar Tahan Lama


Daripada menggunakan metode teknik pengawetan tahu kedele yang mahal, susah dan ribet, lebih baik menggunakan cara-cara sederhana agar umur tahu bisa panjang tahan lama. Tahu biasa yang tidak diberi bahan pengawet berbahaya seperti formalin hanya bisa bertahan segar selama satu atau dua hari saja dari hari pembuatan tahunya. Oleh sebab itu kita perlu untuk mengetahui tehnik-tehnik sederhana supaya tahu yang kita beli bisa disimpan lama untuk digunakan di kemudian hari.

Beberapa Cara Sederhana Mengawetkan Tahu Kedelai Biasa Indonesia :

1. Pengawetan Tahu Dalam Lemari Es
Tahu direbus sampai matang lalu dimasukkan ke dalam kantung plastik lalu simpan di dalam lemari es / kulkas. Dengan cara ini tahu bisa bertahan kurang lebih 8 hari lamanya.

2. Rebus Lama Dan Simpan Di Air Matang
Tahu direbus selama setengah jam lalu di simpan di dalam air matang. Dengan cara ini dipercaya memperlama daya tahan tahu menjadi 4 hari lamanya.

3. Disimpan Di Dalam Larutan Garam Dapur
Cuci lalu rebus tahu selama 3 menit lalu masukkan ke dalam larutan garam saat masih panas berasap. Campur garam dapur dengan air matang menjadi campuran larutan garam 5%. Cara ini memperpanjang usia tahu jadi 5 hari lamanya.

4. Perendaman Tahu Di Air Mendidih Matang
Setelah dicuci dan ditiriskan, rebus tahu yang masih segar di dalam air yang baru mendidih (jangan sampai mengambang). Setelah 24 jam ganti dengan air mendidih matang baru. Dengan cara yang satu ini kurang lebih bisa tahan 5 hari lamanya.

5. Merendam Dalam Larutan Tertentu Secara Alami
Masukkan dan rendam tahu di dalam wadah plastik yang berisi larutan campuran sari jeruk lemon dan garam, di mana garam dapur 4% dan sari jeruk lemon 10% (berarti airnya 86%). Cara ini mempertahankan kesegaran tahu kurang lebih 10 hari. Atau bisa juga setelah dicuci, ditiriskan, dan direbus selama 3 menit dimasukkan dalam larutan kunyit dan jerik nipis. Larutan dibuat dari kunyit 3% dan jeruk nipis hingga ph jadi 3,5 s/d 4. Namun cara ini hanya bisa mengawetkan tahu kedelai selama 3 hari saja.