Minggu, 02 Januari 2011

Perpaduan Honda CBR600, KTM, dan Ducati (Mission R)

Superbike listrik yang akan digunakan pada TTXGP (eGranPrix)2011

Sosok Mission R dinilai seksi dan estetis

Teknologi dan desain sepeda motor supersport listrik semakin canggih. Hal itu terutama pada superbike yang digunakan untuk berpacu di ajang TTXGP atau eGrandPrix. Memasuki tahun ketiga TTXGP pada 2011, salah satu pesertanya adalah Mission Motors dari San Francisco, Amerika Serikat. Mereka memperkenalkan sepeda motor listrik andalannya, yaitu Mission R, beberapa hari yang lalu.

Kombinasi top Sepeda motor dengan sosok seksi dan estetis ini merupakan karya dua perancang kenamaan Mission Motors, yaitu James Parker dan Tim Prentice dari Motonium Design. James Parker ditugaskan khusus untuk merancang sasis, sedangkan bodi, fairing, dan bagian lainnya diserahkan kepada Tim Prentice, seorang perancang produk industri yang sudah banyak memodifikasi moge.

Ukuran baterai dan motor listrik yang kompak membuat ujud Mission R sama dengan superbike 600 cc

Komponen utama Mission R (kanan): baterai dengan sistem kontrol dan motor listrik. Kiri, panel instrumen

Dijelaskan pula, sosok eksotis Mission R diperoleh karena perancangnya mampu menyatukan potongan sosok Honda CBR600R (pada fairing dan bodi), KTM RC8 (jok belakang), dan Ducati 900 (rangka).

Tak hanya itu, teknologi atau produk yang dicangkokkan untuk menopang performa sepeda motor ini juga hebat. Komponen suspensi depan dan belakang menggunakan peredam kejut (shock absorber) yang sama dengan di sepeda motor untuk MotoGP, yaitu Öhlin. Hal yang sama terlihat pada rem (Brembo) dan velg (Marchesini).

Baterai kompak Kendati tidak merinci ukuran baterai dan motor listrik yang digunakan, termasuk komponen pendukung lainnnya, sumber tenaga sepeda motor ini dinilai sangat kompak oleh Mission Motors dan diklaim lebih kecil dibandingkan mesin supersport 600 cc.

Jantung Mission R adalah motor listrik induksi tiga fase yang menghasilkan tenaga 141 PS dan torsi 156 Nm @0-6.400 rpm. Motor listrik arus bolak-balik ini (AC) didinginkan oleh cairan. Adapun baterai lithium-ion yang dipasangkan di sini punya kemampuan menyimpan energi listrik 14,4 kWh. Untuk sekali isi, baterai bisa menjalankan penggerak sepeda motor hingga menempuh jarak 250 km dan mencapai kecepatan top 250 km/jam. Sementara itu, tenaga motor listrik dipindahkan ke roda transmisi satu kecepatan.

Baterai yang terdiri dari beberapa modul dilengkapi dengan sistem kontrol terpadu.  Sistem manajemen baterai akan mengatur arus pengisian dan energi yang dilepaskan untuk memutar motor listrik. Sumber energi ini dikemas dalam kotak yang dibuat dari serat karbon berlapiskan bahan dielektrik.

Yang cukup menarik, Mission R menonjolkan rangkanya yang ditiru dari Ducati dengan cat warna kuning. Rangka ini dibuat dari campuran bilet aluminium dan pipa krom. Selanjutnya, data atau kondisi komponen utama, yaitu suhu baterai, tegangan listrik, tenaga saat melaju, kecepatan, koordinat GPS, dan lainnya dimonitor melalui koneksi WiFi dan 3G.


Sumber :  http://otomotif.kompas.com


Nissan GT-R RC Tampil di Tokyo Auto Salon

JEPANG, Selain Tokyo Motor Show, di Jepang ada pameran bergengsi lainnya, yakni Tokyo Auto Salon (TAS) yang khusus menampilkan mobil- mobil modifikasi berlangsung dari 14 sampai 16 Januari 2011. Bobot TAS bisa disejajarkan dengan SEMA di Amerika.




Untuk penyelenggaraan TAS kali ini, rumah modifikasi Axell Auto ikut berpartisipasi dengan karya yang diperlihatkan melalui supercar Nissan GTR. Axell menjadi berita karena selama ini dikenal sebagai pemodifikasi khusus van-van Toyota dan orang tentu ingin tahu seperti apa garapannya.

Tayangan gambar yang diperlihatkan itu berupa sketsa. AA mencontoh dari mobil balap Nissan yang digarap NISMO, yakni GT-R RC (Racing Competition). Di sini AA memainkan body kit lebar yang ekstrem, sepatbor lebih luas selaras dengan panel fender belakang.

Bemper belakang dibikin baru dengan banyak ventilasi dan mobil tersebut masih dikebut pengerjaannya. Kebetulan, khusus situs modifikasi berhasil menjpret pengerjaannya.

Sumber : Axell Auto, Motorathority


Power Steering Listrik dengan Sambungan Termosplatik


Komponen setir dan tenaga untuk menggerak setir (power steering) listrik Nexteer

Nexteer Automotive, produsen setir, power steering dan as roda dari Amerika Serikat mengumumkan, berhasil mengembangkan power steering listrik (EPS) yang tidak berisik, efisiens dan mampu menghasilkan “feedback” atau reaksi yang lebih baik dari pengemudinya. 
 
Dijelaskan, EPS terbaru tersebut menggunakan sistem sambungan-berpasangan (coupling) yang dibuat dari plastik lentur untuk menggantikan baja. Dengan ini pula, selain bisa mengurangi suara, bobotnya juga lebih ringan. Karena itu pula, Nexteer mengatakan, EPS terbaru ini cocok untuk mobil hibrida atau listrik 
 
“Mobil listrik tidak menimbulkansuara. Nah, kalau menggunakan power steering tipe lain, dipastikan di kabin, bisa terdengar suara aneh,” jelas Kevin Ross, salah seorang penemu sekaligus manajer pada Global Enginering Nexter Automotive. Bahkan ia berani sesumbar, EPS terbaru-nya ini paling halus di antara yang ada di dunia saat ini.    
 
Peugeot X1
Nexteer boleh saja sesumbar. Pasalnya, produk terbarunya tersebut dipastikan akan digunakan oleh Peugeot pada X1, mobil sport listrik yang dipamerkan di Paris Motor Show awal Oktober lalu. Produsen lain yang juga sudah memastikan menggunakan produk baru Nexteer ini adalah Citroën untuk DS3 dan Fiat 500 Abarth.  
 
Sistem kontrol elektronik ini dipasang langsung bersama  motor listriknya. Dengan menggunakan termoplastik, suara dan getaran dari roda dan ban yang diteruskan melalui batang setir bisa dikurangi. Dijelaskan, selama ini, problem EPS bila mobil menggunakan ban besar atau profil tipis dan alurnya sedikit (hampir botak), getaran dan suara berisik yang ditimbulkan langsung dirasakan dan didengar oleh pengemudi. 
 
EPS terbaru ini menggunakan kopling atau sambungan berpasangan dari termoplastik lentur. Diklaim 17 persen lebih ringan setir yang  menggunakan pasangan sambungan dari  baja. Harganya pun 50 persen lebih murah. Karena gesekan setir rendah, pengemudi bisa merasakan kontak langsung dengan ban atau bisa mengontrol kemudi lebih baik.   
 
“Termosplastik dibuat dari polyamide yang mampu bekerja pada suhu tinggi. Bahan ini juga diperkuat dengan serat gelas, “ kata Paul Poirel, Nexteer Automotiove’s Chief Product Engineer, Europe. Setelah digunakan oleh Fiat, Citroën dan Peugeot, Nexteer akan menargetkan penggunaan produknya pada mobil premium. 
 
Komponen lain dari EPS ini adalah sensor non-kontak, motor listrik tanpa borstel (brushless) dan sistem kontrol elektronik. Pada Citroën DS3 and C3. EPS ini menggunakan satu gigi pinion  saja untuk mengerakkan rek setir. 


i-VTEC Technology


Untuk mengenal system i-VTEC, harus memahami cara kerja VTEC. Dan cara kerja VTEC ini Sudah di bahas di topik terdahulu. Teknologi yang dilahirkan Honda Untuk memperoleh mesin yang mampu bekerja pada putaran bawah dan pada putaran atas. 

Honda menyempurnakan VTEC dengan menggabungkan VTC (variable timing control) atas penggabungan teknologi tersebut jadilah i-VTEC (intelligent-variable valve timing & lift electronic control). Teknologi i-VTEC digunakan untuk meningkatkan daya pada kecepatan rendah, menengah dan tinggi sekaligus meningkatkan efisiensi bahan bakar dan mengurangi emisi gas buang.
 

i-VTEC hanya bekerja pada katup masuk. Cara kerjanya: Pasokan bensin ke ruang bakar dilakukan lewat katup masuk yang dikontrol camshaft. Ketika camshaft berputar pada porosnya, tonjolan ini ikut berputar dan memukul rocker arm yang mendorong batang katup, sehingga katup terbuka. Ketika tonjolan sudah lewat, katup tertutup lagi. Ada dua tonjolan cam pada tiap silinder. Tonjolan pertama disebut cam primer dan yang lebih kecil disebut cam sekunder. Pada putaran rendah atau idle, kedua katup bergerak sendiri-sendiri. Karena cam sekunder lebih kecil maka bukaan katupnya juga kecil. Maka pasokan bahan bakarnya pun sedikit, sesuai kebutuhan saat itu.

Untuk i-VTEC, saat mobil melaju pada kecepatan lebih cepat, tinggi angkat katup juga semakin besar. Waktu buka lebih cepat dan menutup lebih lambat. Sebaliknya, bila mobil berjalan lambat, tinggi angkat katup mengecil. Waktu membukanya lebih lambat dan waktu menutup lebih cepat.

Keunikan teknologi ini terlihat pada putaran mesin 2200-2500 rpm. Sebuah piston pada rocker arm primer mengunci rocker arm sekunder. Gerakan piston ini didorong oleh tekanan oli. Hasilnya, kedua katup bergerak bersama yang dikontrol cam primer. Sementara VTC juga bekerja pada cam masuk. Tugasnya adalah menggeser fasa cam maju atau mundur maksimal 50 derajat. Akibatnya, bukaan katup masuk, overlap dengan katup buang. Hasilnya, sebagian gas buang yang seharusnya terdorong keluar seluruhnya, terhisap masuk kembali dan dibakar (bypass). Inilah yang membuat mesin lebih efisien dan ramah lingkungan.

Sementara, cara kerja VTC adalah Pergeseran cam oleh VTC dilakukan VTC Actuator yang bekerja sesuai dengan aliran oli yang dikontrol VTC OCV (oil control valve). Oli ini bergerak dari pompa oli. Jika mesin sudah dijalankan, tekanan oli yang dihasilkan pompa oli akan meningkat hingga mencapai level tertentu yang membuat pin lock membuka dan actuator bekerja. Pergeseran maju mundur dikontrol VTC OCV. Sementara, otak dari kerja VTC adalah ECU (electronic control unit). Unit ini mengkalkulasi data dari sensor-sensor untuk menentukan apakah OCV harus mengeluarkan perintah mundur atau maju pada actuator. Bila terjadi trouble, misalnya oli tidak bekerja sempurna, CVT tidak akan bekerja, tapi VTEC tetap berfungsi.