Tampilkan postingan dengan label Politik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Politik. Tampilkan semua postingan

Jumat, 24 Desember 2010

Presiden Korsel Tinjau Pasukan di Garis Depan


Presiden Lee Myung-bak kunjungi pasukan Korsel di dekat perbatasan

Militer Korea Selatan (Korsel) kembali melakukan latihan perang sore ini, ditandai dengan tembakan artileri dan bising suara pesawat jet. Latihan ini bertujuan untuk menunjukkan kekuatan militer Korsel kepada Korea Utara (Korut).

Latihan dilakukan di tanah latihan di Pocheon, provinsi Gyeonggi, berjarak hanya 30 kilometer dari perbatasan Korea Utara (Korut). Kendaraan artileri menembakkan pelurunya ke arah bukit yang beberapa bagiannya telah diberi nomor sebagai penanda sasaran. Pasukan angkatan darat dan udara lainnya juga melakukan latihan yang sama.

Sebanyak 150 jenis senjata digunakan dalam latihan ini. Termasuk diantaranya adalah misil anti-tank K-1, helikopter penyerang AH-1S, sistem peluncur roket ganda dan enam pesawat tempur F-15K dan KF-16. Sebanyak 800 tentara dilaporkan turut mengikuti latihan

Sementara itu, Presiden Lee Myung-bak meninjau garis depan militer Korsel di  Yanggu, provinsi Gangwon, yang terletak dekat perbatasan dengan Korut. Lee mengatakan bahwa kesiagaan mengantisipasi serangan Korut merupakan salah satu cara menjaga perdamaian di Semenanjung Korea.

“Saya kira kesabaran dapat menciptakan perdamaian, tapi kenyataannya tidak demikian,” ujar Lee seperti dikutip kantor berita Yonhap, Kamis 23 Desember 2010.

Lee juga menekankan pentingnya persatuan nasional untuk menghadapi ancaman dari Korut. Dia mengatakan bahwa Korut mencoba melakukan provokasi untuk memecah belah publik Korsel.

“Kita dapat mencegah Korut melakukan tindakan provokasi melalui persatuan dan reaksi yang kuat,” ujar Lee.

Pada latihan militer Senin kemarin, Korut yang mengancam akan melakukan serangan tidak membuktikan ancamannya dan tidak mengeluarkan komentar apapun. Kali ini, melalui kantor beritanya, KCNA, pemerintah Korea mengatakan bahwa latihan militer tersebut adalah tindakan yang gila dan provokatif.

“Korsel mencoba untuk menyembunyikan niat provokasinya dibalik latihan perang,” tulis kantor berita tersebut.

Kedua Korea masih dalam keadaan bermusuhan, karena Perang 1950-1953 hanya berakhir dengan gencatan senjata, bukan perjanjian damai. Tahun ini, ketegangan kedua negara kembali terjadi, saat pada Maret lalu Korut menenggelamkan kapal perang Korsel dan menewaskan 42 awak kapal.

Selain itu, pada 23 November lalu, kedua Korea terlibat baku tembak setelah pulau Yeonpyeong dihujani tembakan artileri Korut. Empat warga Korsel tewas akibat insiden itu.


Selasa, 07 Desember 2010

Daripada SBY Main Gitar Lebih Baik Urusi Korupsi

Di ketinggian 10500m dipesawat kepresidenan, Presiden SBY mengajak rombongan dan wartawan bernyanyi bersama lagu ciptaannya, setelah mengikuti Sidang Majelis Umum PBB, New York. JApan. Jumat. (28/9) Di ketinggian 10500m dipesawat kepresidenan, Presiden SBY mengajak rombongan dan wartawan bernyanyi bersama lagu ciptaannya, setelah mengikuti Sidang Majelis Umum PBB, New York. JApan. Jumat. (28/9) (25/9) [Abror rizki / Fotograper Presiden]

Indonesia Corruption Watch (ICW) menyarankan Presiden SBY menandatangani Strategi Nasional Pemberantasan Korupsi dan Rencana Aksi Pemberantasan Korupsi (Stranas dan RAN PK) 2010-2025 daripada sekadar menghabiskan waktu bermain gitar dan menciptakan lagu.

Saran ini disampaikan ICW mengingat 9 Desember nanti, seluruh dunia termasuk Indonesia merayakan hari antikorupsi. Namun, upaya pemerintahan dalam pemberantasan korupsi di bawah komando Presiden SBY belum memiliki arah dan terkesan menerapkan pola pencitraan serta “Pemadam kebakaran” dengan membentuk institusi-institusi taktis dan tim ad-hoc.

Padahal, Stranas dan RAN PK telah diluncurkan awal tahun 2010 lalu oleh Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional (Bappenas). "Daripada hanya bermain gitar dan mencipta musik, atau merasa prihatin atas kondisi korupsi di berbagai sektor di Indonesia atau berpidato soal korupsi. Lebih baik untuk menyikapi hari antikorupsi, Presiden SBY segera menandatangani Stranas dan RAN PK," kata Wakil Koordinator ICW, Emerson Yuntho, Senin (6/12/2010).

Menurut emerson, hingga saat ini model pemberantasan korupsi yang dijalankan pemerintah tidak jelas dan tidak terukur. Hal ini terjadi akibat pemerintah belum punya road map atau strategi yang jelas dalam pemberantasan korupsi.

ICW menganggap penting adanya pengesahan Stranas dan RAN PK dalam bentuk Perpres, agar upaya pemberantasan korupsi menjadi lebih fokus, terarah dan terukur. "Selain itu, karena telah berkekuatan hukum, Stranas dan RAN PK 2010 -2025 dapat menjadi pedoman bagi jajaran pemerintah untuk terlibat dalam upaya pemberantasan korupsi," tandasnya.

Sumber : http://www.tribun-timur.com


Rabu, 01 Desember 2010

Ilmuwan Nuklir Iran Dibunuh

Reaktor nuklir Bushehr, Iran. AP/Vahid Salemi

Teheran-Presiden Iran Mahmud Ahmadinejad kemarin menuding Israel dan Amerika Serikat berada di balik aksi bom mobil yang menewaskan seorang ilmuwan nuklir Iran, Dr Majid Shahriari, ahli fisika kuantum dengan spesialisasi transportasi neutron. Ia tewas ketika mobil yang dinaikinya menuju kantor meledak akibat bom bermagnet. 

"Tak diragukan lagi, rezim Zionis dan Barat terlibat pembunuhan ini!" kata Ahmadinejad. Telunjuk pun diarahkan kepada Dinas Intelijen Luar Negeri Israel (Mossad) dan Dinas Intelijen Amerika Serikat (CIA). "Mereka terus-menerus berupaya melakukan sabotase kemajuan teknologi (nuklir) kami," ujar Menteri Dalam Negeri Mustafa Muhammad-Nazar. 

Kepala Badan Tenaga Atom Iran Dr Ali Akbar Salehi membenarkan kabar bahwa Shahriari adalah bekas muridnya, yang kini terlibat dalam proyek besar di negeri itu. Namun Salehi, seperti dilansir kantor berita Iran, IRNA, tak menyebutkan proyek apa yang dimaksud. "Dia salah satu ahli isotop nuklir terbaik yang kami miliki," katanya. Benarkah? 

Situs berita Inggris, The Guardian, menyebutkan bahwa Shahriari tak tahu apa-apa seputar proyek nuklir di negerinya kendati ia dikenal sebagai ahli fisika kuantum yang bekerja untuk Universitas Dewan Ketahanan Nasional Iran, yang dikelola Angkatan Bersenjata Iran. "Dia ilmuwan biasa, bukan politikus," demikian seperti dilansir The Guardian. 

Media Inggris, The Huffington Post, malah menyebut Shahriari merupakan pendukung Mir-Hussin Musafi, reformis yang kalah dalam pemilihan umum presiden tahun lalu oleh Ahmadinejad. Kendati begitu, nama Shahriari masuk daftar sejumlah tokoh dan ilmuwan di Iran yang dicekal Perserikatan Bangsa-Bangsa. 

Lain halnya dengan Profesor Fereydoon Abbasi, 52 tahun, yang juga nyaris tewas pada hari yang sama saat Shahriari diserang. Abbasi, pakar pemisahan isotop, memang pernah menjadi anggota Garda Revolusi Iran. Abbasi dan istrinya selamat meski mobil yang ditumpangi mereka meledak. Istrinya ikut terluka parah. 

Pemerintah Israel dan Mossad, yang baru saja memiliki bos baru, Tamir Pardo, belum menanggapi tuduhan Iran itu. Selain menuding Mossad dan CIA, Teheran menuding Badan Intelijen Luar Negeri Inggris (MI6) ikut andil. Sedikitnya dua ilmuwan nuklir Iran tewas dalam serangan beberapa tahun ini, salah satunya Masud Ali Muhammadi. 

Entah sebuah kebetulan, aksi pengeboman ini terjadi tak lama setelah kawat diplomatik Amerika Serikat yang dikirim sejumlah kedutaan dan lembaga milik Amerika dilansir situs WikiLeaks. Dalam kawat diplomatik itu disebutkan, Raja Arab Saudi Abdullah berulang kali meminta Amerika menyerang Iran, yang dianggap membahayakan Timur Tengah. 

Namun Presiden Iran Ahmadinejad justru menganggap kebocoran kawat diplomatik itu disengaja guna membuat Iran dan negeri-negeri Arab bermusuhan. "Kebocoran itu disengaja oleh Amerika Serikat," katanya. "Tapi informasi itu tak memiliki dampak hukum apa pun dan tak akan merusak hubungan Iran dengan negara-negara Arab." 
Sumber : http://www.tempointeraktif.com