Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 10 Desember 2010

MEMBACA SECARA EFISIEN


Sumber Gambar
Apakah Anda kesulitan menyelesaikan membaca 500 halaman novel yang harus segera Anda buat resensinya? Atau Anda termasuk yang sangat sulit memhamai sebuah penjelasan pendek dari sebuah buku teks? Apakah Anda sering membaca satu paragraf tulisan tapi tak pernah paham apa isinya?

Jika jawabannya Anda 'ya' atas beberapa pertanyaan di atas, maka jelas Anda perlu jurus baru untuk membuat waktu membaca Anda menjadi bermanfaat. Singkatnya, Anda perlu belajar lebih banyak bagaiman mengembangan ketrampilan membaca secara efisien.

Membaca secara efisien, bukan sekadar membaca cepat. Tujuan membaca yang efisien adalah untuk memahami apa yang dibaca dan belajar dari sana, tanpa harus membuang waktu sia-sia. Jadi kecepatan hanya merupakan salah satu bagian dari membaca secara efisien.

Untuk meningkatkan efisiensi Anda saat membaca, pertama Anda harus memastikan bahwa Anda tak persoalan dengan visi, Anda duduk dengan nyaman dan punya lampu baca yang cukup terang. Sedang soal ketenangan suasana, bukan masalah yang esensial. Meski begitu, Anda harus yakin bahwa dengan suasana seperti itupun Anda akan bisa berkonsentrasi.

Singkatnya, hindarkanlah segala sesuatu yang mungkin membuat acara membaca Anda terganggu. Untuk masalah yang satu ini memang setiap orang berbeda-beda. Ada orang yang dapat membaca dengan nyaman meskipun ia berada di tengah-tengah area bermain anak-anak dan ada yang sebaliknya.

Anda harus meyakinkan diri Anda bahwa Anda mampu membaca berbagai material dengan kecepatan yang berbeda-beda dan semua bisa Anda lakukan secara efisien. Memang bila Anda, misalnya, membaca buku biologi tentu akan lebih lambat ketimbang Anda membaca novel. Tapi percayalah, ada banyak cara yang biasa membuat kecepatan Anda membaca buku yang memerlukan pemahaman konseptual secara cepat dan efisien.

Beberapa teknik sederhana yang bisa Anda lakukan untuk meningkatkan efisiensi dari waktu membaca Anda. Pertama adalah biasakannya membaca tanpa bersuara. Anda hanya perlu menggerakan mata mengikuti kata dan kalimat dalam buku yang Anda baca. Kebiasan buruk yang kerap muncul dalam membaca adalah, kita seringkali tak bisa menghindari untuk membaca kembali baris atau kata yang sudah kita lewati. Maklum, kadang kita merasa tak mengerti apa yang barus saja kita baca sehingga harus mengulangnya. Padahal, hal seperti itu tak mesti perlu, karena tanpa sadar, kebiasaan itu menjadikan cara membaca kita tak efisien.

Jadi cara terbaik untuk mengurangi kebiasaan buruk itu adalah dengan mencoba menghindari sebisa mungkin mengulangi membaca kalimat atau baris kata yang sudah kita baca sebelumnya. Pada awalnya, mungkin kita perlu mengurangi kecepatan membaca, agar tak perlu mengulangnya lagi. Setelah itu secara bertahap kecepatan itu ditingkatkan.

Cara lain yang bisa membantu Anda mempercepat kemampuan membaca sekaligus memahami isi sebuah buku yang Anda baca adalah dengan tidak melewatkan untuk lebih dulu membaca bagian pengantar buku. Meski secara serba singkat, halaman ini akan membuat Anda memahami secara garis besar apa sesungguhya yang diceritakan dalam buku itu. Ini akan membuat Anda memiliki sedikit pemahaman sebelum Anda membaca isi buku secara rinci. Dengan begitu, Anda tak perlu lagi merasa ada yang tak mengerti ketika Anda melewati satu atau dua kata isi buku yang Anda baca. Selamat mencoba. 


Sumber : (Koran Tempo 030202)


Logika Bengkok



SEORANG kawan bernama Andrias Harefa dalam berbagai forum sangat suka menyitir pendapat Larry Ellison. Larry, bos Oracle, pada bulan September 2000 diundang oleh Yale University untuk memberi sambutan wisuda sarjana. Kata Larry, seperti disitir Harefa ``Saya berbicara di forum ini bukan untuk Bapak-Ibu yang duduk di sebelah kanan saya. Atau kepada mahasiswa-mahasiswa yang duduk di depan saya. Saya berbicara untuk mahasiswa yang berdiri di ujung sana.`` Bapak-Ibu yang dimaksud Larry adalah para guru besar Universitas Yale. Sedang mahasiswa yang tepat di depannya adalah mahasiswa yang hendak diwisuda. Sedangkan kerumunan mahasiswa yang berdiri di ruang belakang merupakan mahasiswa yang masih kuliah. 
``Universitas adalah lembaga yang membunuh kreativitas secara sistematik. Kalau Anda ingin sukses, cepat tinggalkan bangku kuliah. Belajarlah sendiri. Lahaplah buku-buku. Otak-atiklah ilmu pengetahuan. Jangan kuliah!`` kata Larry Ellison mantap. ``Dan Anda yang mau diwisuda, gaji Anda besok tidak lebih dari US$200.000. Lebih dari itu, yang menggaji Anda adalah orang-orang yang drop out kuliah.`` 

``Saya tidak sedang membual. Tapi lihatlah fakta. Siapa orang yang paling kaya sedunia? Bill Gates. Dia drop out kuliah. Yang terkaya nomor dua? Saya, Larry Ellison. Saya juga tidak lulus kuliah. Terkaya ketiga? Paul Allen, manusia yang tidak jelas kuliahnya. Terkaya keempat? Michael Dell. Apakah Dell lulus kuliah? Tidak. Jadi kalau ingin sukses, jangan kuliah!`` Gemparlah Universitas Yale dan jagat pendidikan tinggi seluruh dunia lantaran ucapan Larry. 

Bill Gates, Larry Ellison, Paul Allen, Michael Dell memang manusia-manusia fenomenal. Dalam usia yang belum genap 40, mereka sudah menjadi orang-orang terkaya dunia. Kekayaan Bill Gates ditaksir sebesasr US$53 miliar, Larry Ellison US$52,1 miliar, sedangkan Paul Allen dan Michael Dell tak jauh dari US$50 miliar. Mereka manusia yang tak lulus kuliah. Namun perusahaan milik mereka banyak mempekerjakan manusia-manusia terbaik lulusan universitas terbaik. Apakah sukses bisnis harus dilalui dengan jalan drop out kuliah? 

Sukses bisnis memang tidak selalu ekuivalen dengan sukses pendidikan. Banyak orang yang terbatas pendidikannya, namun sukses berbisnis. Lantas bukan berarti kalau ingin sukses berbisnis harus berhenti kuliah. Pernyataan Larry Ellison memang terlalu provokatif. Benar dia dan kawan-kawannya tidak lulus kuliah. Namun harus pula diingat, hampir seluruh program dan teknologi yang dipakai perusahaan mereka hasil riset universitas terkemuka di Amerika, terutama MIT University. 

Di sisi lain banyak kepongahan dilakukan lembaga pendidikan tinggi dalam menyikapi perkembangan bisnis mutakhir. Salah satu kepongahan itu ditunjukkan dengan ketertinggalannya kurikulum pendidikan tinggi beserta buku-buku literatur yang nyaris masih terpukau pada kondisi bisnis tahun 80-an. Demikian pula dengan para pengajarnya yang lebih suka konsep-konsep lama bisnis ketimbang mempelajari apalagi mencipta konsep-konsep bisnis baru. Akibat kepongahan lembaga pendidikan tinggi, hasil akhir bernama manusia sarjana ikut-ikutan pongah. 
Gelar akademis yang disandangnya seakan-akan menjadi jaminan utama untuk sukses mengelola bisnis. Padahal, berapa banyak manusia bergelar sarjana ekonomi manajemen yang mampu menjadi manajer andal? 
Kritikan Larry Ellison terhadap kualitas pendidikan tinggi memang pantas dicermati. Namun anjuran Larry agar meninggalkan bangku kuliah, patut ditanggalkan. Bangku kuliah, walaupun kedodoran mengejar kemajuan peradaban, masih memberikan kepada peserta didiknya untuk berpikir metodis, rasional, dan terstruktur. Berpikir metodis, rasional, dan terstruktur, hal demikian yang kini dijalankan oleh pelaku-pelaku bisnis sukses. Apalagi dengan ikut `campur tangannya` teknologi informasi di dalam bisnis yang menuntut berpikir rasional. 
Larry Ellison yang tinggal di Amerika mengkritik sistem pendidikan bisnis di Amerika, walaupun pendidikan bisnis terbaik di bumi ini tetap Amerika. Kita tidak bisa membayangkan bagaimana kritikan Larry Ellison bila melihat sistem pendidikan bisnis di negeri kita. Dengan uang Rp 5 juta, kita dapat menyandang gelar MBA. Ditambah uang Rp 10 juta lagi, di depan nama kita tertempel gelar Dr. Sebuah jual-beli gelar yang kita yakini tidak ada dalam ilmu marketing mana pun. 

Proses jual-beli memang lazim dalam kehidupan ini. Namun menjadi tidak lazim manakala produk dalam jual-beli ini berupa gelar. Terlebih lagi gelar-gelar tersebut berada dalam wilayah bisnis. Master of Business Administration (MBA) dan Magister Management (MM) merupakan gelar prestisius yang diharapkan penyandangnya mampu mengelola organisasi bisnis. Dalam kurikulum MBA dan MM tidak saja diajarkan strategi bisnis, tapi juga etika bisnis sehingga kelak bisnis yang ditangani etis dan profesional. 

Logika bengkok sekarang banyak dipakai oleh manajer bisnis. Mereka ingin disebut profesional, sementara gelar-gelar yang disandangnya tidak profesional. Mereka ingin dipandang sebagai manusia terhormat, sementara tempelan gelarnya diperoleh tidak dengan cara terhormat. Mereka ingin disanjung sebagai manajer beretika, sementara gelar-gelarnya jauh dari prinsip-prinsip etika akademik. 

Gelar yang merupakan buah dari proses pendidikan, sekali lagi, tidak ekuivalen dengan kesuksesan bisnis. Alangkah malangnya manajer-manajer yang sekarang berburu gelar, sementara cara berburunya tidak lazim. Lebih malang lagi bila gelarnya dengan bangga ditempel di kartu namanya, sementara cara kerjanya jauh dari sikap-sikap profesional.

Profesionalisme bisnis tidak diukur dengan berderet-deret gelar yang tertempel di namanya. Profesionalisme bisnis ukurannya sederhana; mampu membuat untung perusahaan, meningkatkan kesejahteraan karyawan, bertanggung jawab sosial, ikut memajukan negara yang semua itu dibingkai melalui cara kerja etis. 


Sumber : www.mahardika21.com


makna sukses


"Orang-orang yang berhasil di dunia ini adalah orang-orang yang bangkit dan mencari keadaan yang mereka inginkan, dan jika tak menemukannya, mereka akan membuatnya sendiri" --George Bernard Shaw
 


Dalam paradigma "lama" (dalam arti yang paling banyak atau dominan), untuk menjadi sukses orang harus dikuasai oleh "roh memiliki." Bila Anda ingin berhasil dalam mendapatkan pekerjaan atau promosi jabatan, misalnya, Anda "harus" memiliki gelar kesarjanaan, memiliki kemampuan berbahasa Inggris, memiliki keterampilan mengoperasikan komputer, memiliki koneksi, memiliki uang untuk menyogok petugas yang menyeleksi, memiliki katabelece atau surat sakti, dan seterusnya. Tanpa "roh memiliki" Anda "tidak mungkin" mendapatkan pekerjaan yang Anda inginkan.

Akibatnya, "roh memiliki" sangat kuat mengakar dalam budaya kita. Tanpa memiliki hal-hal tersebut, orang kehilangan keyakinannya untuk berhasil dalam kehidupan. Dan orang yang kehilangan keyakinan, pada hemat saya, telah kehilangan jati dirinya sendiri. Ia menjadi kelompok marginal, yang dipandang sebelah mata dan tidak diperlakukan sebagai manusia. "Roh memiliki" telah menyesatkan banyak orang.

Paradigma "baru" yang saya coba tawarkan menolak tegas hal tersebut. Untuk berhasil mencapai keinginannya, orang tidak harus memiliki lebih dulu. Tanpa gelar kesarjanaan, tanpa kemampuan berbahasa Inggris, tanpa koneksi, tanpa katabelece, tanpa uang sogok, dan tanpa keterampilan komputer, orang masih dimungkinkan untuk berhasil. Yang diperlukan adalah membangkitkan "roh keberhasilan" dalam diri kita.

"Roh keberhasilan" ini bersumber pada realitas kebenaran, fakta, dan sejarah manusia itu sendiri. Orang-orang yang berhasil ternyata meraih keberhasilannya lewat sebuah proses belajar yang tidak dikuasai oleh "roh memiliki". Lewat proses tersebut ia bertemu dengan "roh keberhasilan" sehingga mampu mendefinisikan makna sukses bagi dirinya. Dan dengan membangkitkan "roh keberhasilan" itu ia membuat keputusan-keputusan dan komitmen untuk bersikap dan bertindak sesuai dengan keyakinannya sendiri yang, kadang kala, berbeda bahkan bertentangan dengan pandangan umum. (Andrias Harefa)

Untuk Direnungkan:
- Apa makna sukses bagi Anda?
- Paradigma mana yang menguasai Anda selama ini?
- Jikalau Anda masih dikuasai oleh "roh memiliki", punyakah Anda tekad untuk membebaskan diri dari belenggu itu dan membangkitkan "roh keberhasilan"?


Cara Belajar Efektif



Sumber Gambar

Langkah-langkah belajar efektif adalah mengetahui 
diri sendiri  kemampuan belajar anda  proces yang berhasil anda gunakan, dan dibutuhkan  minat, dan pengetahuan atas mata pelajaran anda inginkan  Anda mungkin belajar fisika dengan mudah tetapi tidak bisa belajar tenis, atau sebaliknya. Belajar apapun, adalah proces untuk mencapai tahap-tahap tertentu.

Empat langkah untuk belajar
Mulai dengan cetak halaman ini dan jawab pertanyan-pertanyaannya.  Lalu rencanakan strategi anda dari jawaban-jawabanmu, dan dengan "Pedoman Belajar" yang lain.

Apakah pengalaman anda tentang cara belajar?  Apakah anda
What was your experience about how you learn?  Did you
Mulai dengan masa lalu
 
senang membaca?
memecahkan masalah?
menghafalkan?
bercerita?
menterjemah?
berpidato?
mengetahui cara menringkas?
tanya dirimu sendiri tentang apa yang kamu pelajari?
meninjau kembali?
punya akses ke informasi dari banyak sumber?
menyukai ketenangan atau kelompok belajar?
memerlukan beberapa waktu belajar singkat atau satu yang panjang?
Apa kebiasaan belajar anda?
Bagaimana tersusunnya?
Yang mana terbaik?
terburuk?
Bagaimana anda berkomunikasi dengan apa yang anda  ketahui belajar paling baik?
Melalui ujian tertulis, naskah, atau wawancara?

Teruskan  ke masa sekarang
 Berminatkah anda?
Berapa banyak waktu saya ingin gunakan untuk belajar?
Apa yang bersaing dengan perhatian saya?
Apakah keadaannya benar untuk meraih sukses?
Apa yang bisa saya kontrol, dan apa yang di luar kontrol saya?
Bisakah saya merubah kondisi ini menjadi sukses?  
Apa yang mempengaruhi pembaktian anda terhadap pelajaran ini?
Apakah saya punya rencana? Apakah rencanaku mempertimbangkan pengalaman dan gaya belajar anda?    

Pertimbangkan proses,  persoalan utama
Apa judulnya?
Apa kunci kata yang menyolok? 
Apakah saya mengerti?
Apakah yang telah saya ketahui?
Apakah saya mengetahui pelajaran sejenis lainnya? 
Sumber-sumber dan informasi yang mana bisa membantu saya?
Apakah saya mengandalkan satu sumber saja (contoh, buku)?
Apakah saya perlu mencari sumber-sumber yang lain?
Sewaktu saya belajar, apakah saya tanya diri sendiri jika saya mengerti?
Sebaiknya saya mempercepat atau memperlambat?
Jika saya tidak mengerti, apakah saya tanya kenapa?
Apakah saya berhenti dan meringkas?
Apakah saya berhenti dan bertanya jika ini logis?
Apakah saya berhenti dan mengevaluasi (setuju/tidak setuju)? 
Apakah saya membutuhkan waktu untuk berpikir dan kembali lagi?
Apakah saya perlu mendiskusi dengan "pelajar-pelajar" lain untuk proces informasi lebih lanjut?
Apakah saya perlu mencari "para ahli", guruku atau pustakawan atau ahliawan? 

Buat  review
Apakah kerjaan saya benar?
Apakah bisa saya kerjakan lebih baik?
Apakah rencana saya serupa dengan "diri sendiri"?
Apakah saya memilih kondisi yang benar?
Apakah saya meneruskannya; apakah saya disipline pada diri sendiri? 
Apakah anda sukses?
Apakah anda merayakan kesuksesan anda?

Sumber : 
Halaman ini digambarkan dari "metacognition", istilah yang diciptakan oleh Flavell (1976), dan disampaikan oleh banyak orang. Sumber-sumber tambahan telah dikembangkan oleh SNOW (Special Needs Opportunity Windows),


Berpikir Kritis


sumber gambar

Learning without thought is labor lost Confucius
Berpikir Kritis adalah "ketetapan yang hati-hati dan tidak tergesa-gesa untuk apakah kita sebaiknya menerima, menolak atau menangguhkan penilaian terhadap suatu pernyataan, dan tingkat kepercayaan dengan mana kita menerima atau menolaknya." dari Critical Thinking oleh Moore dan Parker.

Strategi Untuk Membaca Secara Kritis
Tanyakan pertanyaan-pertanyaan berikut pada diri anda sendiri:
1. Apa topiknya?
2. Kesimpulan apa yang diambil oleh pengarang tentang topik tersebut?
3. Alasan-alasan apa yang diutarakan pengarang yang dapat dipercaya? 
(Hati-Hati dengan alasan yang tidak obyektif (misalnya kasihan,      ketakutan, penyalahguaan statistik, dll) yang dapat menipu pembaca.)
4. Apakah pengarang menggunakan fakta atau opni?
(Fakta dapat dibuktikan. Opini tidak dapat dibuktikan dan mungkin tidak mimiliki dasar yang kuat.)
5. Apakah pengarang menggunakan kata-kata netral atau emosional?
(Pembaca kritis melihat di balik kata-kata untuk mengetahui apakah alasan-alasan jelas.)
 
Karakteristik Pemikir Kritis
  1. Mereka jujur terhadap diri sendiri
  2. Mereka melawan manipulasi
  3. Mereka mengatasi confusion
  4. Mereka bertanya
  5. Mereka mendasarkan penilaiannya pada bukti
  6. Mereka mencari hubungan antar topik
  7. Mereka bebas secara intelektual

Sumber : Diadaptasi dari Critical Thinking oleh Vincent Ryan Ruggiero


Selasa, 07 Desember 2010

Tips Memotivasi Karyawan


Sumber : Google Image

Keberhasilan perusahaan (manajemen) dalam mempertahankan karyawan terbaik yang dimiliki tidaklah dicapai dengan cara yang mudah. Hal tersebut hanya dapat terjadi berkat kepiawaian manajemen dalam memahami kebutuhan karyawan dan kemampuan mereka untuk menciptakan lingkungan kerja yang kondusif yang dapat membuat para karyawannya merasa termotivasi secara internal.  

Kebutuhan Karyawan

Salah satu teori motivasi yang banyak mendapat sambutan yang amat positif di bidang manajemen organisasi adalah teori Hirarki Kebutuhan yang dikemukakan oleh Abraham Maslow. Menurut Maslow setiap individu memiliki kebutuhan-kebutuhan yang tersusun secara hirarki dari tingkat yang paling mendasar sampai pada tingkatan yang paling tinggi.  Setiap kali kebutuhan pada tingkatan paling rendah telah terpenuhi maka akan muncul kebutuhan lain yang lebih tinggi. Pada tingkat yang paling bawah, dicantumkan berbagai kebutuhan dasar yang bersifat biologis, kemudian pada tingkatan lebih tinggi dicantumkan berbagai kebutuhan yang bersifat sosial. Pada tingkatan yang paling tinggi dicantumkan kebutuhan untuk mengaktualisasikan diri.
Dalam perusahaan kebutuhan-kebutuhan tersebut diatas diterjemahkan sebagai berikut:
  • Kebutuhan fisiologis dasar:  gaji, makanan, pakaian, perumahan dan fasilitas-fasilitas dasar lainnya yang berguna untuk kelangsungan hidup pekerja
  • Kebutuhan akan rasa aman: lingkungan kerja yang bebas dari segala bentuk ancaman, keamanan jabatan/posisi, status kerja yang jelas, keamanan alat yang dipergunakan.
  • Kebutuhan untuk dicintai dan disayangi: interaksi dengan rekan kerja,  kebebasan melakukan aktivitas sosial, kesempatan yang diberikan untuk menjalin hubungan yang akrab dengan orang lain
  • Kebutuhan untuk dihargai: pemberian penghargaan atau reward, mengakui hasil karya individu
  • Kebutuhan aktualisasi diri: kesempatan dan kebebasan untuk merealisasikan cita-cita atau harapan individu, kebebasan untuk mengembangkan bakat atau talenta yang dimiliki. 
Mengingat bahwa setiap individu dalam perusahaan berasal dari berbagai latarbelakang yang berbeda-beda, maka akan sangat penting bagi perusahaan untuk melihat apa kebutuhan dan harapan karyawannya, apa bakat dan ketrampilan yang dimilikinya serta bagaimana rencana karyawan tersebut pada masa mendatang.  Jika perusahaan dapat mengetahui hal-hal tersebut, maka akan lebih mudah untuk menempatkan si karyawan pada posisi yang paling tepat, sehingga ia akan semakin termotivasi.  Tentu saja usaha-usaha memahami kebutuhan karyawan tersebut harus disertai dengan penyusunan kebijakan perusahaan dan prosedur kerja yang efektif. Untuk melakukan hal ini tentu bukan perkara yang gampang, tetapi memerlukan kerja keras dan komitmen yang sungguh-sungguh dari manajemen. 
Lingkungan Kerja Kondusif
 
Semua karyawan memliki kebutuhan untuk mengungkapkan diri, ingin diterima sebagai bagian dari "anggota keluarga/perusahaan", ingin dipercaya dan didengar kata-katanya, dihargai oleh manajemen dan bangga terhadap apa yang dikerjakannya. Melalui komunikasi dua arah (termasuk rapat/meeting) pihak manajemen dapat mengidentifikasi hal-hal tersebut sekaligus menginformasikan tentang tujuan-tujuan perusahaan, target market dan rencana masa depan lalu mendorong karyawannya untuk memberikan feedback.
     
Pihak manajemen juga harus belajar bagaimana membentuk "budaya perusahaan" dan lingkungan kerja yang kondusif. Hal ini hanya dapat dicapai melalui praktek kepemimpinan dan manajemen perusahaan yang baik, pendekatan kemanusiaan, keadilan bagi semua, struktur karir yang jelas, program pelatihan dan pengembangan yang terpadu,  dukungan peralatan kerja yang memadai, penilaian kinerja yang obyektif, program "reward" yang tepat, gaji dan tunjangan yang memadai serta kegiatan-kegiatan lain yang diadakan oleh perusahaan.    

Faktor lain yang tidak kalah pentingnya adalah karyawan perlu mengetahui bahwa pihak manajemen mengakui kehadiran mereka, sadar akan arti penting karyawan bagi perusahaan, para manager mampu mengingat nama-nama bawahannya dan tidak segan menyapa mereka. Manager yang gagal mengingat nama bawahannya atau tidak merespon ketika disapa oleh bawahan akan membuat karyawan kehilangan motivasi kerja, kurang  loyal dan kurang kepercayaan pada manager tersebut.  Para manager dapat memperoleh loyalitas dan kepercayaan dari bawahannya jika ia memperlakukan bawahannya sebagai "mitra kerja", menunjukkan kepedulian yang tinggi, mau mendengarkan saran dan keluhan dan mau saling berbagi pengalaman.
 
Akhirnya tinggal satu pertanyaan yang harus dijawab para manager: mungkinkah untuk melakukan hal-hal tersebut di perusahaan Anda. Dengan perencanaan yang matang dan niat baik yang didasari kepedulian akan pentingnya.kualitas hidup setiap orang dalam perusahaan, saya yakin para manager akan dapat melakukannya.


Sumber : Johanes Papu, Team e-psikologi


JATUH CINTA


Sumber : Google image

 Definisi : Sebuah perasaan dalam hati yang tidak dapat dilukiskan tentang seseorang dengan harapan dapat memiliki, ingin membahagiakan dan tidak ingin terpisah.
 
 Josh Mc Dowell menyebut : "Cinta sebagai sesuatu yang diharapkan semua orang. Tanpa cinta manusia tidak sempurna. Kehilangan cinta manusia akan menjadi putus asa".
 
 Jenis-jenis cinta:
 
 1.  True love : Cinta yang memberi dampak positif dalam kehidupan seseorang; dia merasa berharga, dia lebih semangat dalam berkarier; mendorong untuk memiliki masa depan yang berkemenangan. True love selalu berakhir dengan kebahagiaan.
 
 2.  False love : Cinta yang memberi dampak negatif dalam kehidupan seseorang; dia tidak maju, berkembang dalam dosa (seperti menjadi penipu, pembohong, berzinah karena cinta, malas belajar). False love selalu berakhir dengan kehancuran.
 
 3. Captive love : Cinta yang membelenggu seseorang, sehingga tidak ada hal lain yang dipikirkan dan dikerjakan kecuali cinta. Akhir dari cinta ini biasanya kekecewaan.
 
 Penyebab tidak mendapatkan true love :
 
 1.  Ketidak mengertian tentang arti cinta yang sesungguhnya, banyak yang menghubungkan cinta sebagai kesenangan sesaat atau daya tarik sexual yang menggiurkan.
 
 2.   Ketidaksadaran akan tanggung jawab dalam cinta : Cinta bukan hanya "saya tertarik dan saya ingin mendapatkannya". Namun cinta adalah "tanggung jawab". Tanggung jawab disini membutuhkan kedewasaan dan visi hidup yang jelas, apa setelah jatuh cinta ini. Berarti ketertarikan tidak boleh selalu dihubungkan dengan jatuh cinta.
 
 3.  Terlalu tertipu dengan romantika dan pengalaman sexual : Televisi dan majalah serta buku-buku menggambarkan jatuh cinta sebagai pengalaman romantis yang membawa pada pengalaman sexual, mulai dari yang ringan seperti pelukan, ciuman, hingga yang berat seperti hubungan sex. Namun hal tersebut adalah menyesatkan karena romantika dan sex adalah pengikat perkawinan dan bukanlah bumbu cinta.
 
 4.  Tidak menghubungkan cinta dengan penciptanya : Banyak orang muda justru menjadikan cinta sebagai sesuatu yang tidak boleh dihubungkan dengan kerohanian. Ini salah besar. Justru orang yang jatuh cinta harus berdoa dengan benar apakah ini kehendak Tuhan, ataukah hanya gejala ketertarikan kepada lawan jenis sebagai konsekuensi gejolak kemudaan. 
 
 Sebuah petuah bijak menyatakan bahwa: 
“Komunikasi yang baik membuat orang selalu bisa berada di mana saja”
 
“Bila manusia tak memberikan manfaat bagi sesama, maka apa lagi yang diharapkan darinya ?”


Sumber : referensi Pribadi


Apakah Anda Ingin Berubah?


Ikutilah langkah di bawah ini:
  • Tingkatkan Kesadaran Diri Anda. Keluarlah dari kegiatan rutin sejenak. Lihat sekeliling Anda dan perhatikan situasi yang terjadi sekitar Anda, bacaan Anda, teman-teman Anda, rekan sekerja Anda , pesaing Anda. Temukan diri Anda sendiri. Di mana saya sekarang? Apa yang saya inginkan untuk masa depan saya?
  • Perluas Pengetahuan Anda . Beranikan diri Anda sendiri untuk bersikap positif, baca buku lebih banyak, majalah. Ikuti kursus, pengembangan diri, ikuti trend yang sedang berkembang.
  • Tingkatkan Pemahaman Anda. Bergabunglah dengan organisasi, ikuti seminar dan diskusi.
  • Usahakan untuk dapat merubah Persepsi Anda. Tentukan target Anda, tetapi bersikap rasional dan asertif.
  • Yakinkan Diri Anda sendiri. Cari referensi dan mantapkan diri Anda untuk melangkah maju.
  • Sesuaikan Sikap Anda . Tanyakan teman-teman Anda, sanak saudara apakah mereka melihat perubahan pada diri Anda.
  • Langkah berikut : Ubahkan Perilaku Anda. Katakan “Tidak” kalau Anda tidak setuju. Jangan berpikir bahwa Anda dapat menyenangkan semua orang. Tetaplah pada tindakan Anda dengan sikap yang fleksibel/tidak kaku yang diterima oleh lingkungan Anda.

SUmber : referensi Pribadi


HIDUP HANYA SEBUAH PERJALANAN


Dulu, ada seorang Kaisar yg mengatakan pada seorang penunggang kuda, bahwa jika dia bisa menjelajahi daerah seluas apapun, maka Kaisar akan memberikan kepadanya daerah seluas yg sanggup dijelajahinya itu. Kontan si penunggang kuda itu melompat ke punggung kudanya & melesat secepat mungkin untuk menjelajahi dataran seluas mungkin.

Dia melaju & terus melaju, melecuti kudanya untuk lari secepat mungkin untuk menjelajahi dataran seluas mungkin. Ketika lapar & letih, dia tidak berhenti untuk makan dan minum karena dia mau memiliki tanah yg maha seluas.

Akhirnya tiba ia pada suatu tempat setelah berhasil menjelajahi daerah cukup luas, tetapi ia sudah sangat lelah & hampir mati. Lalu dia berkata terhadap dirinya sendiri, "Mengapa aku paksa diri begitu keras untuk menguasai tanah yg seluas ini? Kini aku sudah sekarat, & hampir mati&aku hanya butuh tanah seluas 2 meter untuk menguburkan diriku sendiri.

Cerita ini mirip dgn perjalanan hidup kita. Kita cenderung memaksa diri sangat keras tiap hari untuk mencari uang, kuasa, dan keyakinan diri. Kita cenderung mengabaikan kesehatan kita, waktu bersama keluarga, dan kesempatan mengagumi keindahan di sekeliling kita, hal-hal yg ingin kita lakukan. Kita cenderung mengabaikan kehidupan rohani kita. Kita cenderung tidak memikirkan dengan serius hidup kita sesudah mati.

Anda percaya ada kehidupan sesudah mati? Suatu hari ketika kita menoleh ke belakang, kita akan melihat betapa kita tidak membutuhkan sebanyak itu, tapi kita tidak mampu memutar mundur waktu atas semua hal yg tidak sempat lakukan. Maka mulai sat ini luangkanlah waktu memikirkan sejenak hal yg akan terjadi jika kita mati kelak. Atau apa yg akan kita lakukan saat ini seandainya kita tahu bahwa kita akan meninggal dalam waktu seminggu lagi? Sebulan lagi? Setahun lagi? 10tahun lagi? Atau 40tahun lagi? Bukankah suatu hal yg menyenangkan sekaligus menyeramkan seandainya kita bisa mengetahui kapan kita akan mati? Cuma kita tidak tahu, kita semua tidak ada yg tahu.

Kita hanya bisa bersiap meninggalkan semuanya. Jalanilah hidup yg seimbang, belajarlah menghargai dan menikmati hidup ini apa adanya, dan terutama: 
TAHU APA YG TERPENTING DALAM HIDUPMU

Sumber : file pribadi


Mengelola Dokumen Kerja


Dalam pekerjaan kita sehari-hari, kita selalu berhadapan dengan dokumen. Jika dokumen ini tidak dikelola dengan baik maka dapat menganggu kegiatan kerja kita karena jumlahnya terus bertambah setiap hari. Pengelolaan yang baik dapat menghindarkan kita dalam penumpukan dokumen/arsip, kesulitan dalam temu balik dan penyusutannya.

Beruntung jika perusahaan tempat anda bekerja mempunyai standar pengelolaan dokumen (record management) yang baik, sehingga anda dapat mengikuti aturan-aturan atau petunjuk-petunjuk teknis pengelolaan dokumen kerja anda atau unit kerja atau departemen anda. Namun sayang banyak perusahaan tidak memilikinya.

Secara singkat record management adalah pengelolaan dokumen dari mulai dokumen diciptakan (design document, forms, reports, drawings, computer input dan output, dll), distribusi (internal, ekstenal), diproses atau digunakan (decision making, documentation, response, dll), disimpan aktif, disimpan inaktif dan dimusnahkan.

Keseluruhan kegiatan tersebut di atas hanya akan dapat berjalan dengan baik apabila setiap bagian saling berkait dan terkolaborasi. Jika salah satu dari sistem tersebut tidak berjalan, maka akan terjadi kepincangan dalam sistem kearsipan tersebut sehingga disebut sebagai daur hidup arsip.

Lebih jauh lagi tentang record management, pada proses peciptaan dokumen maka akan terkait masalah-masalah format dokumen, sistem penomoran, korespondensi dll. Pada proses distribusi, kita akan berbicara mengenai distribusi internal dan eksternal, apakah menggunakan buku agenda, register, buku ekspedisi atau kartu kendali. Pada saat digunakan perlu juga diketahui siapa yang mengunakan dokumen, siapa yang berhak memberi disposisi, menindaklanjuti, dan sebagainya. Selanjutnya penyimpanan, berapa lama disimpan di ruang kerja, apakah bisa dimusnahkan atau harus diserahkan pada bagian sentral file perusahaan. Hal yang paling penting pada bagian penyimpanan ini adalah sistem penyimpanan; apakah berdasarkan subyek, kronologis, atau abjad, di samping jadwal penyimpanan arsip.

Jadwal penyimpanan arsip merupakan acuan dalam menentukan berapa lama dokumen disimpan, sesuai dengan UU yang berlaku, serta nilai guna dokumen tersebut. Penyusutan, pemusnahan atau pengalihbentukan hanya dapat dilakukan jika ada jadwal penyimpanan arsip tersebut.

Semua pekerjaan yang dijabarkan diatas, merupakan tugas dari unit atau bagian tersendiri atau sering disebut unit arsip atau bagian arsip di suatu perusahaan.

Jika anda tidak bekerja di bagian arsip maka hal yang paling penting anda perhatikan dalam kaitan pengelolaan unit anda adalah sistem pengunaan dan penyimpanan dokumen:

1.     Bagaimana suatu dokumen sampai di tempat anda. Hal ini penting untuk penelusuran.
2.     Siapa di unit anda yang berhak membuka surat penting.
3.     Bagaimana arus penerimaan surat sehingga dapat dengan mudah diketahui siapa yang menindaklanjuti surat tersebut.
4.     Jika suatu surat belum selesai diproses, bagaimana sistem pemberkasannya.
5.     Jika telah selesai digunakan, sistem penyimpanan apa yang akan digunakan; apakah dokumen yang anda miliki akan disimpan dengan mengunakan sistem kronologis, subyek atau abjad.
6.     Apakah kode yang akan digunakan merupakan angka, huruf, atau penggabungan keduanya (alfa numerik).
7.     Dokumen yang disimpan mulai dari dokumen tahun barapa; apakah dokumen yang masih sering digunakan (aktif), jarang digunakan (semi aktif), atau hampir tidak pernah digunakan (tidak aktif).

Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan di atas dapat membantu anda dalam membuat sistem pemberkasan/penyimpanan dokumen yang anda miliki.

Sumber : Referensi Pribadi