Tampilkan postingan dengan label Ekonomi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ekonomi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 24 Desember 2010

China Geser Amerika, Indonesia Masuk 5 Besar?

Dr. Gerard Lyons, Group Head of Global Research Stanchart (standardchartered.com)

Perekonomian dunia kini berada dalam super-cycle (siklus-super). Ini adalah masa pertumbuhan global historis yang tinggi, yang berlangsung satu generasi atau lebih. Super-cycle yang ditandai dengan munculnya  pertumbuhan ekonomi yang cepat ini dinikmati oleh negara seperti Cina, India dan Indonesia sekarang.

Ada banyak faktor pendorong terjadinya hal ini, termasuk peningkatan perdagangan, tingginya tingkat investasi, urbanisasi yang cepat dan inovasi teknologi.

Dalam sejarahnya, perekonomian dunia telah dua kali menikmati super-cycle sebelumnya. Pertama, 1870-1913, mengalami pick-up signifikan pada pertumbuhan global. Rata-rata pertumbuhan ekonomi dunia setiap tahun sebesar 2,7%, satu persen lebih tinggi dari sebelumnya. Siklus itu dipimpin oleh munculnya Amerika Serikat, serta munculnya peningkatan perdagangan dan penggunaan teknologi yang lebih besar dari Revolusi Industri.

Super siklus kedua, dari 1945 hingga awal 1970-an, pertumbuhan rata-rata 5% dan ditandai oleh rekonstruksi pasca-Perang dan catch-up di sebagian besar dunia. Ini juga ditandai oleh munculnya kelas menengah yang besar di Barat dan negara-negara pengekspor di Asia, dipimpin oleh Jepang.

Sekarang, kita mungkin berada dalam super-cycle yang berbeda, namun dengan aspek-aspek serupa seperti dua super-cycle sebelumnya.

Bagi orang-orang di Asia dan di seluruh dunia, muncul ide pertumbuhan mungkin terdengar tidak biasa. Tapi bagi banyak orang di Barat, pikiran dari Super-Cycle bukan hal aneh mengingat masalah inilah yang dihadapi perekonomian dunia. Faktanya,ekonomi dunia sekarang lebih dari US$62 triliun, sekitar dua kali lipat dibandingkan satu dekade lalu, bahkan telah melampaui puncak pra-resesi.

Selama dua tahun terakhir, ekonomi telah rebound didorong oleh kebijakan stimulus di Barat dan oleh pertumbuhan kuat di Timur. Memang, pasar di negara-negara berkembang, yang merupakan sepertiga dari ekonomi dunia, saat ini mencapai dua-pertiga pertumbuhannya. Tren ini tampaknya akan terus berlanjut.

Pada tahun 2030, perekonomian dunia bisa tumbuh menjadi US$308 triliun. Proyeksi ini berarti tingkat pertumbuhan riil sebesar 3,5% untuk periode mulai tahun 2000 -- saat Super-Cycle dimulai -- hingga 2030. Atau rata-rata pertumbuhan riil sebesar 3,9% dari sekarang hingga 2030. Ini akan menjadi kemajuan signifikan dibandingkan dengan pertumbuhan 2,8% selama 1973 hingga 2000.

Situasi yang luar biasa tidak hanya berupa kemungkinan skala ekspansi ini, tetapi juga ramalan yang didasarkan pada proyeksi pertumbuhan yang terlalu berhati-hati. Misalnya, China diperkirakan akan tumbuh rata-rata 6,9% per tahun selama periode tahun 2030 dan India sebesar 9,3%.
Pada tahun 2030, India mungkin telah menjadi ekonomi terbesar ketiga di dunia. Selain itu, Indonesia, yang saat ini perekonomian peringkat 18 terbesar kemungkinan besar akan pindah menjadi lima terbesar dunia dalam jangka waktu dua puluh tahun saja, setelah menikmati hampir rata-rata 7% pertumbuhan selama periode tersebut.

Memang, selalu ada risiko yang dapat mempengaruhi pertumbuhan global. Super-cycle pertama berakhir dengan pecahnya Perang Dunia Pertama, yang kedua dengan guncangan minyak bumi diawal tahun tujuh puluhan. Namun, kali ini semoga dunia mempunyai posisi lebih baik untuk mengatasi risiko munculnya badan pengambil keputusan internasional dan forum kebijakan seperti G20.

Sangatlah penting menekankan bahwa super cycle bukan berarti pertumbuhan akan terus menguat selama seluruh periode. Dalam tiga atau empat tahun terakhir saya termasuk di antara yang paling pesimis tentang pertumbuhan ekonomi AS. Saya masih berhati-hati karena perekonomian AS masih akan berjuang di tahun depan dengan pertumbuhan di bawah tren. Demikian juga Eropa dan Jepang, keduanya akan menghadapi prospek jangka pendek yang masih lesu dengan pertumbuhan datar.

Karena itu, perkembangan akan lebih luar biasa jika Asia dapat mendorong lebih banyak pertumbuhan mereka sendiri. Apalagi hal tersebut sangat dibutuhkan dunia.
Tahun depan, China akan melihat tahun pertama dari rencana lima-tahunan ke-12. Hal ini seharusnya akan membantu pertumbuhan mereka. Namun demikian, bank sentral China dan lainnya di seluruh Asia akan melakukan pengetatan kebijakan untuk menahan inflasi. Pada gilirannya, hal ini harusnya memungkinkan pertumbuhan yang lebih berkelanjutan, namun dengan tingkat yang mendekati atau bahkan di bawah yang terlihat pada tahun ini. Jadi, dalam Super-Cycle, jelas akan ada tantangan bagi para pembuat kebijakan.

Sebagaimana pentingnya untuk fokus pada tantangan jangka pendek, namun sangat penting tetap melihat peluang jangka panjang. Selama Super-Cycle, kami percaya bahwa China bisa menggantikan AS sebagai perekonomian terbesar dunia pada 2020, jauh lebih cepat daripada yang banyak pihak prediksikan.

Namun, dari perkiraan itu yang paling penting adalah cerita yang terjadi dibaliknya.

Tak bisa dipungkiri, ada skala perekonomian yang tengah berkembang. Seiring dengan pertumbuhannya, negara-negara berkembang akan memberikan pengaruh lebih besar pada perekonomian dunia. Begitupun dengan dampak dari pertumbuhan koridor-koridor perdagangan baru. Hampir 85% dari populasi dunia kini semakin saling terkait melalui perdagangan, sehingga memungkinkan  pertambahan jumlah orang yang akan berkontribusi pada perekonomian global.

Sumber-sumber pendanaan akan menjadi penggerak pertumbuhan yang penting, mengingat tingginya kebutuhan investasi, khususnya di bidang infrastruktur. Lalu ada hal lain yang saya sebut perspiration atau keringat dari makin banyaknya jumlah orang yang bekerja dan berbelanja, dan juga kreativitas yang makin besar atas inovasi dan teknologi.

Negara-negara yang akan berhasil adalah negara yang paling banyak memiliki uang tunai, komoditas dan kreativitas. Dalam beberapa tahun terakhir saya kerap menjelaskan keadaan yang tengah terjadi sebagai New World Order, mencerminkan pergeseran keseimbangan kekuatan ekonomi dan keuangan dari Barat ke Timur.

Nah, di tengah pergeseran ini masih berlaku, Super-Cycle lebih tepat mencerminkan apa yang sedang terjadi. Barat masih sangat mungkin berhasil dengan lingkungan seperti ini, terutama jika perekonomian di sana kreatif. Namun sudah jelas bahwa Asia akan muncul menjadi pemenang.

Sumber : Dr Lyons Gerard
Head of Global Research and Chief Economist di Standard Chartered Bank


Rabu, 24 November 2010

Lima Raksasa Ekonomi Dunia Di Tahun 2030


Optimisme bahwa kekuatan ekonomi dunia akan bergeser dari Barat ke Timur kian merebak. Bahkan, Asia kini menjadi pusat perhatian utama dunia sebagai kawasan tujuan investasi. 

“Pendulum geo-politik dan geo-ekonomi akan bergeser ke kawasan Asia,” ujar Dirjen Kerjasama ASEAN Kementerian Luar Negeri Indonesia, Djauhari Oratmangun.

Optimisme Djauhari adalah satu dari deretan optimisme berbagai lembaga keuangan dunia lainnya. Baru-baru ini, dalam laporan khusus Standard Chartered Bank juga diyakini soal pergeseran keseimbangan kekuatan ekonomi global dari Barat ke Timur. Pemicunya adalah peningkatan  besar di negara berkembang, terutama perdagangan di pasar-pasar negara berkembang, industrialisasi yang pesat, suplai tenaga kerja murah, urbanisasi dan meningkatnya masyarakat kelas menengah, serta pertumbuhan ekonomi yang tinggi, rata-rata 5,2 persen di Asia dalam dua dekade mendatang
.
Bahkan, Stanchart memperkirakan 20 tahun lagi, lima kekuatan ekonomi akan benar-benar berubah. Pada 2010 ini, lima kekuatan ekonomi dunia dikendalikan oleh Amerika Serikat, China, Jepang, Jerman dan Prancis.

Namun, dua dekade lagi, bank terkemuka yang berpusat di Inggris itu meyakini posisi lima besar akan benar-benar berganti. China akan menempati posisi pertama, lantas diikuti oleh Amerika Serikat, India, Brazil dan Indonesia.  Berikut ini profil singkat lima raksasa ekonomi dunia 2030.

1. China
Pada 2030, China akan menjadi negara adikuasa secara ekonomi. volume PDB China diperkirakan akan mencapai US$73,5 triliun atau tertinggi di dunia.Saat ini, PDB China mencapai US$5,9 triliun atau terbesar kedua dunia. China akan menguasai 24 persen ekonomi dunia. Negeri dengan jumlah penduduk tertinggi sejagat ini akan tetap menjadi mesin utama pertumbuhan yang ditopang oleh industri manufaktur. Apalagi, kaum berpendidikan tinggi di China melonjak sangat signifikan.

2. Amerika Serikat
Saat ini, Amerika merupakan mbahnya kapitalisme dunia dan negara adidaya ekonomi dengan PDB terbesar dunia, yakni US$14,6 triliun. Amerika juga termasuk negara kaya dunia dengan tingkat pendapatan penduduk per kapita cukup besar, yakni US$46.760 per tahun.

Jumlah penduduk dan kondisi geografis membuat negara adidaya ini tak muncul sebagai negara paling kaya di dunia. Negara ini mengedepankan perekonomi kapitalis yang tak terlalu memprioritaskan program sosial. Namun, negara ini tak ragu menghabiskan anggaran besar untuk pendidikan. Meski tergolong maju, kesenjangan sosial-ekonomi di negara ini cukup kentara.

3. India
PDB India diperkirakan akan mecapai US$30 triliun dalam dua dekade lagi. India yang juga memiliki populasi terbesar kedua di dunia, diperkirakan akan menjadi mesin pertumbuhan besar kedua setelah China. Negara ini telah meningkatkan investasi luar biasa besar dari 24 persen PDB pada 2000 menjadi 40 persen PDB pada 2010. Kapasitas produksi, perbaikan infrastruktur, serta upaya memperbaiki standar pendidikan akan memicu pertumbuhan India.

4. Brazil
Sebagai calon raksasa ekonomi keempat di dunia, PDB Brazil diperkirakan akan mencapai US$12,2 triliun pada 2030. Selain memiliki jumlah penduduk yang tinggi, Brazil juga dikenal sebagai negara yang memiliki kekayaan sumber alam serta perkembangan di industri manufaktur.

5. Indonesia
Indonesia merupakan salah satu kuda hitam yang akan menempati posisi kelima dunia pada 2030. Indonesia bukan hanya menggeser Rusia, melainkan juga menggeser Jepang yang kini merupakan kekuatan ekonomi terbesar ketiga dunia. Pada saat itu, Indonesia akan memiliki PDB sebesar US$9,3 triliun.

Saat ini, Indonesia merupakan negara yang memiliki peran penting di ASEAN. Dari 565 juta populasi ASEAN, Indonesia mencakup 40 persennya. Dari total PDB US$1,3 triliun, 50 persennya juga dikuasai Indonesia. Indonesia tengah berupaya menggenjot infrastruktur untuk mendorong pertumbuhan ekonomi rata-rata 7 persen per tahun.


Sumber : VIVAnews.com


Pasokan Pembangkit EBT Akan Capai 18 Persen

PT PLN (Persero) menargetkan total pasokan listrik dari pembangkit yang menggunakan bahan bakar energi terbarukan (EBT) mencapai 18 persen pada 2019. Kadiv Energi Baru Terbarukan PLN M Sofyan mengatakan, saat ini daya listrik yang berasal dari pengembangan panas bumi (geotermal) baru mencapai 1.179 megawatt (MW). 

 "Selain pemanfaatan panas bumi, pasokan listrik yang bersumber dari energi terbarukan juga berasal dari tenaga hidro dan angin," kata Sofyan dalam roundtable discussion bertajuk "Sinkronisasi Produsen dan Pembeli Listrik Panas Bumi" di Jakarta, Selasa (23/11). 

Menurut dia, dalam waktu dekat ini, PLN juga sedang memprosesikan pemasangan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS). Rencananya akan mulai beroperasi pada Desember dan awal 2011. Saat ini tengah dilakukan pemasangan di beberapa pulau wisata, di antaranya di Gili Terawangan, Wakotobi, Raja Ampat, dan Bunaken yang memiliki total sekitar 1 MW. 

Selain itu, PLN juga akan melaksanakan pembangunan PLTS di pulau terluar dan pulau-pulau bagian Indonesia timur. "Nanti akan dibangun untuk daerah Miangas yang berbatasan dengan Filipina. Ada juga di daerah Kaltim. Dan, nantinya akan dibangun juga PLTS di daerah Indonesia timur," ujarnya.

 Pada kesempatan yang sama, Direktur Rencana dan pengembangan PT Pertamina Gheothermal Energy (PGE) Zainal Ilmie Bachrun mengatakan, PGE saat ini tengah mengembangkan potensi energi panas bumi sebesar 765 MW. Proyek ini merupakan bagian dari rencana jangka panjang pengembangan panas bumi hingga 1.342 MW pada 2014. 

Namun, dia mengatakan, pihaknya masih terkendala sejumlah masalah perizinan. "Saat ini perlu dilakukan pendekatan dan sosialisasi mengenai proyek pengembangan panas bumi kepada pemerintah daerah terkait terutama," tuturnya. 

Proyek pengembangan tersebut terdapat di Ulubelu I dan II (110 MW), Lumut Balai I dan II (110 MW), Lahendong 4 (20 MW), Lahendong 5 dan 6 (40 MW), Hulu Lais I dan II (110 MW), Kotamobagu 1 dan II (40 MW), Sungai Penuh I (55 MW), Karaha I (30 MW), Kamojang 5 (30 MW), Ulubelu 3 dan 4 (110 MW), serta Lumut Balai 3 dan 4 (110 MW). 

Hal ini, lanjut dia, nantinya akan mendorong progres rencana kerja pengembangan panas bumi, terutama dalam rangka mendukung program percepatan proyek 10.000 MW II yang dicanangkan oleh pemerintah. Di samping itu, masih ada 307 MW yang dalam tahap pengembangan dan pengkajian.

Sumber : http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=266855


Selasa, 23 November 2010

Ekspo Ekonomi Hijau Tiongkok

Tiongkok akan menggelar Ekspo Teknologi Tinggi Industri dan Ekonomi Hijau di Beijing dari 24 hingga 27 November mendatang. Dalam ekspo itu akan dipamerkan teknologi maju dan hasil penelitian terbaru dunia dalam bidang penghematan energi, pengurangan emisi, energi bersih, pembenahan lingkungan, teknologi karbon rendah dan ekonomi sirkulatif. Ekspo teknologi ekonomi hijau ini mengundang perhatian luas tidak hanya karena skalanya yang terbesar dalam sejarah di Tiongkok dan momen penyelenggaraannya yang berdekatan dengan dimulainya Konferensi Perubahan Iklim PBB di Cancun, Meksiko pada 29 November nanti. 

Wakil Menteri Perdagangan Tiongkok, Jiang Yaoping, dalam jumpa pers di Beijing menyatakan, mengembangkan ekonomi hijau untuk menghadapi perubahan iklim adalah masalah bersama yang dihadapi masyarakat internasional, sekaligus bagian penting untuk mewujudkan target pembangunan berkelanjutan dalam bidang ekonomi dan sosial serta target pembangunan peradaban yang ramah lingkungan. Tiongkok tengah menggiatkan transformasi pola perkembangan ekonomi, dengan membentuk masyarakat yang hemat sumber daya dan ramah lingkungan. 

Wakil Menteri Perdagangan Tiongkok Jiang Yaoping mengatakan, pemerintah Tiongkok menyelenggarakan ekspo ini untuk membangun tiga platform. Kerangka pertama pertama adalah sebagai forum komunikasi perusahaan dalam dan luar negeri untuk menciptakan peluang bisnis. Tujuan kedua adalah sebagai forum untuk menampilkan tekad dan tindakan pemerintah Tiongkok untuk menghadapi perubahan iklim dan pengembangan ekonomi hijau. Tujuan ketiga adalah sebagai forum untuk memasyarakatkan kesadaran akan pelestarian lingkungan. Ketiga platform itu diharapkan bisa memainkan peran penting untuk memperkenalkan pola produksi, gaya hidup, dan konsumsi yang ramah lingkungan sekaligus rendah karbon. 

Dikatakan pula, walaupun ekonomi hijau Tiongkok agak terlambat mulainya, namun memiliki dasar industri yang kondusif dan pasar yang besar, momentum perkembangannya akan sangat kuat dan memilikii prospek yang cerah. 

Ia mengatakan, pemerintah Tiongkok akan berpegang pada prinsip "bersama memikul kewajiban yang berbeda" untuk meningkatkan kerja sama di bidang perubahan iklim, meningkatkan kontak dan kerja sama antar-perusahaan dalam pengembangan ekonomi hijau. Pemerintah Tiongkok juga mendorong penyerapan dan penerapan teknologi dan peralatan modern dalam bidang penghematan energi dan karbon rendah, sekaligus memperketat ekspor produk yang boros energi dan tinggi emisi. Di pihak lain, pemerintah Tiongkok juga mendorong perusahaan asing untuk menanamkan modal pada industri yang hemat energi dan ramah lingkungan, untuk mencapai keuntungan bersama dalam kerangka multilateral. 

Sumber : http://indonesian.cri.cn/201/2010/11/23/1s114407.htm


Pemerintah Tanggung Resiko Eksplorasi Energi Panas Bumi

Pemerintah akan menanggung resiko eksplorasi dari proses pembangunan pembangkit listrik tenaga panas bumi (geothermal) melalui skema kerjasama pemerintah-swasta (public-private partnership/PPP) dengan menyediakan anggaran Rp1,162 triliun.

"Yang sudah disetujui Rp1,162 triliun. DPR sudah setuju dan akan diselesaikan ke Kemenkeu bahwa 2011 ada alokasi untuk itu," ujar Deputi Bidang Sarana dan Prasarana Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Bappenas Dedy Supriadi Priatna saat ditemui di Jakarta, Senin.

Ia mengatakan dana tersebut digunakan untuk menjamin potensi kegagalan yang dapat terjadi, seperti tenaga panas bumi yang tidak sesuai kualitas dan kuantitas yang disyaratkan dalam proses eksplorasi dan pengeboran sumur untuk mencari tenaga geotermal.

Menurut dia, pemerintah akan menanggung biaya eksplorasi tersebut bila tidak berhasil menemukan panas bumi yang tidak memenuhi syarat.

Namun, apabila berhasil, biaya eksplorasi tetap ditanggung investor yang menanamkan modalnya.

"Resiko plus bunganya ditanggung investor. Investor pasti mau karena tidak ada resiko exploration fee lagi," ujarnya.

Ia menjelaskan dana sebesar Rp1,162 triliun itu akan digunakan untuk menanggung enam proyek pembangkit listrik geothermal yang akan dimulai pembangunannya pada 2011.

Menurut dia, investor asing yang berminat membangun proyek pembangkit listrik geothermal banyak berasal dari Jepang, AS, dan Eropa.

"Enam proyek ada di luar Jawa semua. Kita punya target 3000 MW untuk `geothermal`, yang paling banyak (minat) dari Jepang, Amerika, dan Eropa," ujar Dedy.(*)


Rabu, 20 Oktober 2010

Taiwan pindahkan kilang minyak ke Sulsel


MAKASSAR, kabarbisnis.com: Chinese Petrolium Cooporation (CPC), sebuah perusahaan minyak milik pemerintah Taiwan, memastikan pemindahan kilang minyaknya dari Koshiung, Taiwan ke Kabupaten Selayar, Sulawesi Selatan (Sulsel). Menurut rencana, relokasi akan dilakukan pada akhir tahun 2010 dan mulai berproduksi pada 2011 mendatang.

Kepastian relokasi kilang minyak CPC ini diungkapkan oleh Wakil Bupati Selayar, Nursyamsinah, saat melakukan pertemuan dengan Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo di Makassar, Rabu (30/6/2010).


"Lokasi yang diberikan Pemkab Selayar untuk keperluan relokasi kilang minyak tersebut adalah seluas 1000 hektare," papar Nursyamsinah seperti dilansir laman Depkominfo, Kamis (1/7/2010).


Kilang minyak CPC Taiwan untuk tahun pertama memproduksi berbagai jenis bahan bakar dengankapasitas 100.000 barel perhari, dan produksi ditargetkan terus meningkat sesuai dengan kapasitas di Taiwan 220.000 barel perhari.


Sementara Gubernur Sulsel mengaku sangat mendukung dan menyambut niat baik rencana Taiwan memindahkan kilang minyaknya ke Kabupaten Selayar. "Tapi rencana pemindahan itu dikawal terus hingga terealisasi sehingga tidak hanya sekedar menjadi wacana, seperti rencana-rencana yang telah dilakukan beberapa investor sebelumnya," ujar Syahrul.
kbc3


1.500 Pembangkit listrik di Sulsel ditarget rampung 2010

MAKASSAR, kabarbisnis.com: Persiapan program Desa Mandiri Energi di empat daerah di Sulawesi Selatan (Sulsel) telah mencapai 45% dan ditargetkan rampung pada pertengahan 2010. Untuk pengerjaan secara fisik, kini masih dalam proses tender.

Kepala Dinas Pertambangan dan Energi Sumber Daya Mineral Sulsel Gunawan Palaguna menyatakan untuk program Desa Mandiri Energi di empat kabupaten sebagai proyek percontohan yakni Kabupaten Gowa, Sidrap, Pinrang dan Luwu, akan disiapkan sebanyak 1.500 unit pembangkit tenaga listrik.


"Dana pembangunan pembangkit listrik tersebut bersumber dari dana APBN dan APBD Sulsel 2010 yang diswakelolakan ke pihak investor. Jadi, nanti masyarakat tinggal membayar biaya pemeliharaan ke pihak pengelola," kata Gunawan di Makassar, seperti dilansir laman Depkominfo, Senin (28/6/2010).


Desa yang mendapat bantuan pembangkit listrik itu diprioritaskan pada wilayah pesisir dan pegunungan yang tersebar di empat kabupaten.


Gunawan menyebutkan, empat kabupaten yang menjadi proyek percontohan untuk Program Desa Mandiri Energi itu, juga akan menerima mesin produksi komoditas untuk menunjang kegiatan mandiri ekonomi bagi masyarakat setempat.


Hal itu dimaksudkan untuk memaksimalkan pemanfaatan tenaga listrik pada siang hari. Program yang sama akan diterapkan di kabupaten lainnya, jika keempat kabupaten yang menjadi proyek percontohan itu berhasil.


Listrik 10 Ribu MW Selesai 100% di 2013


JAKARTA - Pemerintah memberikan batas waktu penyelesaian program percepatan pembangunan pembangkit listrik 10 ribu Megawatt (MW) tahap I selesai 100 persen pada tahun 2013.

“10 ribu MW tahap I alhamdulillah sudah berjalan, 20 persen sudah akan diresmikan tahun ini dan di tahun 2013 insya Allah 100 persen akan selesai”, ujar Menteri ESDM Darwin Z Saleh sebagaimana dikutip dari Kementerian ESDM, di Jakarta, Minggu (17/10/2010). 
Setelah program percepatan tahap I selesai dan masuk kedalam sistem jaringan maka akan dilanjutkan dengan Program Percepatan Pembangunan Pembangkit Listrik 10.000 Mw tahap II yang mayoritas didominasi sumber energi panas bumi  yang saat ini sudah mulai di lelang.

”Pemerintah (Kementerian ESDM dan Sekretaris Negara) sekarang sedang memperbaiki aturan terkait sehingga nantinya insya Allah akan ada berita baik untuk investor. PLN kita akan lebih yakin, lebih tanggap untuk membeli listrik yang dihasilkan pembangkit swasta yang berasal dari geothermal,” jelasnya.

Tahun 2010 ini, pelaksanaan proyek listrik 10 ribu MW Tahap I telah dapat menyelesaikan konstruksi pembangkit PLTU sebesar 2.000 MW yang berlokasi 3 di Pulau Jawa dan lima di luar Pulau Jawa. Pada tahun 2011, rencananya akan diselesaikan pembangkit sebanyak 4.300 MW yang tersebar di lima lokasi di Jawa dan 12 lokasi di luar Jawa.

"Dengan demikian dari 37 lokasi di Indonesia akan selesai 25 lokasi dengan total kapasitas sebesar 6.300 MW. Sisanya sebesar 3.700 MW akan dapat diselesaikan pada tahun-tahun berikutnya," jelasnya.

Diharapkan listrik yang dihasilkan dari program percepatan tahap I dapat dinikmati oleh masyarakat Indonesia. Dan untuk PLN dengan selesainya program ini tentunya akan dapat mengurangi penggunaan BBM untuk pembangkitan karena bahan bakar yang digunakan didominasi batubara. "Ini berarti subsidi yang diberikan kepada PLN akan dapat dikurangi sehingga dapat dialihkan untuk kepentingan sektor lain yang membutuhkan," tandasnya.